William Shakespeare - Profil Biografi Profile Biodata Info - Siapa Dimana Kapan Mengapa - Daftar Penemu Terkenal Di Dunia - Sejarah Aktual dan Faktualita
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tokoh Pelopor Universitas Modern

Satu dari banyak keuntungan belajar riwayat hidup dari orang-orang yang mendahului kita adalah bahwa pendahulu kita mengilhami kita oleh hidup mereka dan oleh pengorbanan mereka. Dari antara orang-orang yang mendatangkan ilham adalah para nabi, orang suci, sarjana dan bahkan para penguasa politis yang saleh/adil. Salah satu dari para penguasa paling saleh/adil di sejarah Islam adalah Nizam al-Mulk. Ia adalah pelindung dari Imam yang besar, Hujat al-Islam (tanda bukti Islam) Al-Ghazali; Nizam al-Mulk percaya Imam itu al-Ghazali mempunyai potensi untuk membuktikan masalah yang rahasia, anthropomorphians, dan ahli filsafat yang sedang menyebabkan banyak kebingungan di dunia Muslim waktu itu.

Nizam al-Mulk dipanggil al-Wazir al-Kabir �Great Minister.� Nama penuhnya adalah Nizam al-Mulk, Qiwamu ad-Deen, Abu Ali al-Hasan Ali ibn Ishaaq at-Tusi. Ia berasal dari Tus, yang mana adalah kota dari Imam al-Ghazali. Nizam al-Mulk adalah seorang orang yang brilian, seorang pemimpin politis brilian dan seorang ahli. Ia sangat tepat di sifati sangat tulus, religius, dan kesederhanaan yang ekstrim. Ia mengisi umurnya sebagian besar dengan belajar Quran dari sarjana dari sekitar. Ia membangun madrasa yang terkenal (universitas) di Baghdad yang mana namanya: An-Nizamia. Ia membangun sekolah lain yang besar juga, satu di Nisapur dan yang lain di Tus. Ia betul-betul mendukung orang-orang untuk belajari seni dan ilmu pengetahuan Islam dan ia membelanjakan banyak uang di bidang pendidikan.

Nizam al-Mulk dilahirkan tahun 408 H dan ia meninggal di tahun 485 H. Bapaknya adalah Dahaqin Bayhaq. Nizam al-Mulk tumbuh dewasa belajar tatabahasa, berbagai hal retorik, dan politis. Setelah bertindak sebagai seorang sekretaris yang brilian di Ghaznah, ia menjadi wazir dari sultan, Alab Arsalaan. Kemudian, ia juga bertindak sebagai wazir bagi putra sultan dari Malik Shah. Nizam al-Mulk mempunyai suatu kemampuan yang besar di berbagai hal yang organisatoris dan juga dikenal untuk memperbaiki bersalah yang terjadi di bawah pemerintahnya. Ia sangat lembut dengan warganegara dari status dan ia membangun Biography banyak orang dari Nizam al-Mulk By Imam Shams ad-Deen Muhammad az-Zahabi Translated oleh musim Hamza Yusuf

Banyak dari orang-orang yang besar akan mencari-cari dia, dan ia melanjut melayani orang-orang di cara ini untuk 20 tahun. Nizam al-Mulk memperbaharui bangunan dari Khawarizam dan Mashhad dari Tus, dan ia membangun rumah sakit. Ia juga mendermakan 50,000 emas dinars kepada suatu rumah sakit dan sekolah yang dibangun di kota dari Marw, Harat, Balkh, Basra, dan Isbahan. Ia adalah sangat sabar, pemaaf secara alami, sangat dermawan dan lurus pemahamannya. Ia adalah seorang orang yang secara ksatria dan mempertunjukkan banyak ketegasan dan kesabaran. Kebajikannya tak terukur dan ia selalu sangat dermawan.. Dikatakan bahwa ia mendermakan 100 emas dinars tiap pagi. Ia juga sangat sederhana dan dinyatakan bahwa ia orang yang saleh/adil.

Nizam al-Mulk yang telah hafalan selesai Quran ketika ia berumur 11 tahun dan ia belajar madhab dari Imam Shafi�. Ia adalah Shafi� di Asha�ri dan jurisprudensinya di syahadatnya. Ia belajar dengan Imam al-Qushari seperti halnya dengan Abu Hamid dan Mihrbzud Abu Muslim al-Azhari. Sesungguhnya �Ali Tirad al-Zaynabi, Nasr Nasr al-Ukbari dan yang lain menghubungkan di Nizam al-Mulk�s otoritas. Sebagai tambahan, Nizam al-Mulk adalah brilian pada matematika dan sangat pandai bicara dalam penulisannya. Ia cerdas secara alami, bijaksana, waspada dan berpandangan lurus. Konon Nizam al-Mulk tidak pernah duduk kecuali jika ia mempunyai wudu� dan ia tidak pernah lakukan wudu� kecuali bahwa ia shalat dua rakaat setelahnya. Ia juga membiasakan puasa Senen Kamis dan tak terukur kebaikan sifatnya yang tulus/saleh..

Ia mempunyai suatu kecenderungan yang kuat berada dalam kelompok dari orang-orang yang saleh/adil. Ia sangat disibukan oleh pengajaran dan selalu terkesan oleh mereka yang menunjukkan kesalahan yang ada padanya dan siapa yang menyebabkan dia merasakan kerendahan hati atau membuat dia menangis. Nizam al-Mulk meninggal di suatu malam Kamis di 485 H dekat Nurhawand. Ia dibunuh selagi sedang berpuasa selama Ramadan. Pembunuh yang dicurigai datang sebagai orang sufi yang tulus dan memberi Nizam al-Mulk suatu hadiah. Ketika Nizam al-Mulk hendak menerima hadiah tersebut, beliau ditusuk dadanya dengan sebilah pisau dan meninggal.

Tentaranya yang kemudian membunuh si pembunuh telah disindir Nizam itu al-Mulk dibunuh dari dalam pemerintah di pesan dari seorang gubernur. Gubernur ini lakukan catatan mengharapkan lebih dari beberapa bulan setelah pembantaia'n Nizam al-Mulk. Kalimat terakhir Nizam al-Mulk diucapkan adalah, � Tolong lakukan catatan membunuh pembunuhku sebab aku sudah memaafkan dia. Tidak ada dewa tetapi Tuhan.� Ibn Aqil berkata sekitar Nizam al-Mulk, riwayat hidup Nizam mengejutkan akal dalam kaitan dengan dermawannya, kebangsawanannya, keadilannya dan hal menghidupkan kembali dari simbol dari agama ini. Hari nya adalah hari dari orang-orang dari pengetahuan dan akhirnya adalah oleh pembantaian selagi ia dalam perjalanannya ke Mecca selama Ramadan, sehingga ia meninggal seorang raja dari dunia ini dan seorang raja dari dunia yang berikutnya itu. Moga Allah berbelas-kasih kepada Beliau
Baca Selengkapnya - Tokoh Pelopor Universitas Modern

Tokoh Penaklukan Inggris

Syahdan, di tahun 1066, Pangeran William dari Normandia hanya dengan beberapa ribu prajurit di belakangnya menyeberangi selat yang memisah daratan Benua Eropa dengan Inggris, menggendong tekad jadi penguasa Inggris. Tekad berani yang gila-gilaan ini ternyata berhasil, upaya penghabisan penyerbuan kekuatan asing yang dapat berjalan sebagaimana mestinya, Penaklukan orang Norman ini lebih dari sekedar merebut mahkota Kerajaan Inggris buat William dan keturunannya. Ini membawa pengaruh yang mendalam pada seluruh sejarah Inggris selanjutnya dalam pelbagai segi dan jenisnya yang tak terbayangkan oleh William sendiri.

William dilahirkan sekitar tahun 1027 di Falaise sebuah kota di Normandia, Perancis. Statusnya anak sundal, tetapi satu-satunya putera Robert I, Pangeran Normandia. Robert meninggal dunia tahun 1035 tatkala dalam perjalanan pulang berziarah ke Darussalam. Sebelum keberangkatannya dia sudah menunjuk William sebagai ahli warisnya. Jadi, pada umur delapan tahun, William sudah menjadi Pangeran Normandia. Jauh dari jaminan buatnya peroleh kedudukan yang enak dan mewah, justru pengangkatan membuat kedudukan ruwet buat William. Soalnya dia tak lebih dari anak kecil yang mesti mengepalai baron-baron yang jelas sudah pada tua bangka. Taklah mengherankan jika ambisi sang baron-baron itu lebih menonjol ketimbang kesetiaannya. Dan akibat-akibat selanjutnya sudahlah bisa ditaksir: terjadilah situasi anarki, tiga pengawal William dibunuh dengan kejam bahkan guru pribadinya pun digorok batang lehernya. Dengan bantuan Raja Perancis Henry I (yang sebetulnya tak lebih berstatus lambang belaka) William beruntung bisa terus dapat melihat sinar matahari di tahun-tahun awal hidupnya. Nasibnya belum seburuk pengawal pribadi atau gurunya.

Tahun 1042, ketika Williarn menginjak usia pertengahan belasan tahunnya, dia diangkat jadi perwira militer kehormatan. Sesudah itu dia punya peranan pribadi dalam peristiwa-peristiwa politik. Pecahlah kemudian serentetan pertempuran melawan baron-baron feodal Normandia yang pada akhirnya dapat dimenangkan William yang memantapkan kedudukannya. (Tak terelakkan lagi, status anak tak resmi yang ada pada diri William merupakan halangan politis sehingga kerap kali lawan-lawannya menyebutnya "sundelan"). Tahun 1603 dia berhasil menaklukkan Maine, provinsi tetangganya dan di tahun 1064 dia juga berhasil diakui selaku penguasa Brittania, juga propinsi tetangga yang lainnya.

Dari tahun 1042 hingga 1066, Raja Inggris adalah Edward "Sang Penerima Pengakuan." Karena Edward tak berputera satu pun, banyak rencana gerakan untuk pengganti kedudukan kerajaan Inggris. Dari sudut hubungan darah, tuntutan William menggantikan Edward adalah lemah; ibu Edward adalah adik perempuan kakek William. Tetapi, di tahun 1051, barangkali dipengaruhi oleh cara William menunjukkan bahwa dia punya kesanggupan, Edward menjanjikan William untuk menjadi penggantinya.

Tahun 1064, Pangeran Harold Goldwin yang paling kuat di Inggris dan sahabat karib serta ipar Edward masuk dalam genggaman William. William memperlakukan Harold sebagaimana mestinya tetapi menahannya sampai dia angkat sumpah sokong tuntutan William memperoleh mahkota Kerajaan Inggris. Banyak orang beranggapan sumpah model todongan macam ini tak punya legalitas dan ikatan moral, dan memang Harold sendiri tidak menganggap begitu. Tatkala Edward meninggal tahun 1066, Harold Goldwin menuntut mahkota Kerajaan Inggris buat dirinya sendiri dan sebuah badan yang namanya "Witan" (badan yang beranggotakan para bangsawan yang lazim ambil bagian dalam pengambilan keputusan siapa-siapa yang jadi pemegang mahkota kerajaan) memilihnya jadi raja baru. William, yang ambisinya berkobar-kobar dan murka kepada Harold karena melanggar sumpah, ambil keputusan menyerbu Inggris untuk merebut tahta dengan kekerasan senjata.

William menghimpun armada dan angkatan bersenjata di pantai Perancis, dan di awal Agustus 1066 dia sudah siap mengangkat sauh. Tetapi, ekspedisi itu ditunda beberapa minggu menunggu meredanya angin buruk dari utara. Sementara itu, Raja Norwegia Harald Hardraade melancarkan serangan terpisah terhadap Inggris melintasi laut utara. Harold Goldwin menyiagakan pasukannya di sebelah selatan Inggris, siap menghadapi serangan William. Dengan demikian dia harus mengerahkan pasukannya ke sebelah utara Inggris untuk menghadang serangan orang-orang Norwegia. Tanggal 25 September, dalam pertempuran di Stamford Bridge raja Norwegia tewas dan tentaranya berantakan.

Hanya dua hari kemudian angin berubah di Selat Kanal dan William bergegas mengerahkan pasukannya ke Inggris. Mungkin, sebaiknya Harold membiarkan William bergerak menuju arahnya atau sedikitnya mengistirahatkan prajuritnya secukupnya sebelum terjun ke medan pertempuran. Tetapi, yang dilakukannya malah kebalikannya. Dia buru-buru menggerakkan pasukannya kembali ke selatan menghadapi William. Kedua angkatan bersenjata bertemu tanggal 4 Desember 1066 dalam sebuah pertempuran terkenal di Hastings. Di ujung hari itu juga pasukan berkuda dan pemanah William sudah mampu memporak-porandakan kekuatan Anglo-Saxon. Menjelang turunnya malam, Raja Harold sendiri terbunuh. Dua saudaranya sudah terbunuh lebih dulu dalam pertempuran itu dan tak ada pemimpin Inggris tersisa yang punya bobot dan wibawa membentuk pasukan baru atau melawan tuntutan William atas mahkota kerajaan. William dinobatkan di London pada hari Natal.

Lepas lima tahun, pecah beberapa pemberontakan yang terpencar-pencar, tetapi William sanggup menggebrak mereka semua. William menggunakan dalih pemberontakan ini sebagai alasan menyita semua tanah di Inggris dan memaklumkan bahwa semua tanah itu miliknya pribadi. Banyak dari tanah-tanah itu kemudian dibagi-bagikan kepada pengikut-pengikut orang Norwegianya yang menguasai tanah itu dalam kondisi feodal selaku vassalnya. Akibatnya, seluruh aristokrasi Anglo-Saxon ditanggalkan, diganti oleh orang-orang Norwegia. (Betapa pun kedengarannya dramatis, cuma beberapa ribu orang saja yang secara langsung terlibat dengan perpindahan kekuasaan ini. Buat para petani penggarap masalahnya tak lebih dari pertukaran juragan belaka).

William senantiasa merasa dan berlagak dialah Raja Inggris yang absah dan selama masa hidupnya sebagian besar lembaga-lembaga Inggris dipertahankan sebagaimana adanya tanpa perubahan. Karena William berkepentingan peroleh informasi menyangkut apa yang jadi miliknya, dia memerintahkan dilaksanakannya sensus terperinci menyangkut penduduk dan harta benda. Hasil sensus itu direkam dalam sebuah buku besar disebut "Domesday Book", yang merupakan sumber informasi historis amat berharga. (Naskah aslinya masih terdapat hingga kini, disimpan di Kantor Pencatatan Umum di London). William kawin dan punya empat putera dan lima puteri. Dia meninggal tahun 1087 di kota Rouen, Perancis Utara. Sejak saat itu tiap raja di Inggris merupakan keturunannya langsung. Anehnya, kendati William Sang Penakluk ini mungkin merupakan raja terpenting di Inggris, dia sendiri bukanlah orang Inggris, melainkan Perancis. Dia dilahirkan di Perancis dan tutup hayat di Perancis, menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di sana dan cuma bisa berbahasa Perancis.

Dalam hal mengukur arti penting pengaruh William atas sejarah satu hal yang paling mesti diingat adalah tak akan terjadi penaklukan orang Norman atas Inggris tanpa adanya William. William bukanlah pengganti mahkota Kerajaan Inggris semestinya. Kalau saja dia terjauh dari ambisi pribadi dan kemampuan, tak akan ada alasan sejarah perlunya orang Norman melakukan penyerbuan. Inggris tak pernah dapat serbuan dari Perancis sejak penaklukan Romawi 1000 tahun sebelumnya. Tak pernah terjadi penaklukan yang berhasil dari Perancis selama 9 abad kecuali oleh William itu. Para penakluk Norman sebenarnya berjumlah relatif kecil namun dia punya pengaruh besar buat sejarah Inggris. Dalam lima atau enam abad sebelum penaklukan itu, Inggris sudah berulang kali diserbu oleh bangsa Anglo-Saxon dan Skandinavia dan dasar budayanya adalah Teutonik. Orang-orang Norman sendiri merupakan keturunan Viking tetapi bahasa mereka dan kulturnya Perancis. Karena itu, penaklukan oleh orang Norman mengakibatkan mendekatnya kebudayaan Inggris dengan Perancis. Apa yang dialami Inggris adalah pembauran dengan budaya Perancis dan Anglo-Saxon yang tak akan pernah terjadi tanpa adanya penyerbuan itu. William memperkenalkan Inggris suatu bentuk feodalisme yang lebih maju. Raja-raja Norman, tak seperti Anglo-Saxon pendahulunya, membawahi ribuan pendekar-pendekar bersenjata, satu angkatan bersenjata yang tangguh menurut ukuran abad tengah. Orang-orang Norman punya ketetampilan pemerintahan dan administrasi sehingga pemerintahan Inggris menjadi salah satu dari pemerintahan yang kuat dan efektif di Eropa.

Akibat menarik berikutnya berkat penaklukan orang Norman adalah berkembangnya bahasa Inggris baru. Berkat itu terjadilah penambahan kata-kata baru ke dalam bahasa Inggris, begitu banyaknya penambahan yang terjadi sehingga kamus Inggris modern berjejalan kata-kata berasal dari Perancis dan Latin, melebihi kata-kata yang berasal-usul dari Anglo-Saxon. Lebih jauh lagi dari itu, selama tiga atau empat abad segera sesudah penaklukan Norman gramatika Inggris berubah dengan teramat cepatnya, sebagian besarnya cenderung ke arah penyederhanaan. Kalaulah saja tak terjadi penaklukan itu, jangan-jangan bahasa Inggris sekarang hanya sedikit berbeda dengan bahasa Jerman dan Belanda rendahan. Ini satu-satunya contoh betapa bahasa besar tidak akan terjelma sebagaimana bentuknya yang kita kenal sekarang ini tanpa lewat peranan usaha seseorang pribadi. (Perlu dicatat, bahasa Inggris sekarang jelas sekali merupakan bahasa yang terkemuka di dunia).

Juga bisa ditandaskan akibat lainnya dari penaklukan Norman terhadap Perancis sendiri. Sekitar empat abad sesudahnya, terjadi serentetan pertempuran antara raja-raja Inggris (yang karena berasal-usul dari orang Norman, memiliki tanah-tanah di Perancis) dengan raja-raja Perancis. Pertempuran ini merupakan rentetan nyata dari penaklukan Norman; sebelum tahun 1066 tak ada itu yang namanya peperangan antara Inggris dan Perancis. Dalam banyak hal, hakekatnya Inggris beda dengan semua negara-negara daratan benua Eropa. Baik atas dorongan gairahnya selaku kerajaan besar dan berkat lembaga-lembaga demokratisnya, Inggris telah memberi pengaruh mendalam terhadap bagian-bagian dunia lain, lepas samasekali dari ukuran luas negerinya sendiri. Sampai seberapa jauhkah aspek sejarah politik Inggris ditilik dari akibat perbuatan-perbuatan William ?

Para sejarawan tidak setuju hanya pada masalah apa sebab demokrasi modern jabang bayinya lahir di Inggris dan bukannya, katakanlah, di Jerman. Tetapi, budaya dan lembaga-lembaga Inggris merupakan campuran dari Anglo-Saxon dan Norman, dan percampuran ini dihasilkan oleh akibat penaklukan orang Norman. Di lain pihak, rasanya agak sulit buat saya secara wajar memberikan terlampau berlebihan atas despotisme William dalam kaitan dengan pertumbuhan demokrasi Inggris di masa-masa selanjutnya. Tentu, ada harganya demokrasi di Inggris pada abad sesudah ditaklukkan William.

Ditilik dari ukuran Kerajaan Inggris, pengaruh William bisa kelihatan lebih jelas. Sebelum tahun 1066, Inggris berulang kali mengalami rupa-rupa penyerbuan. Sesudah tahun 1066, kedudukan dan peranannya justru terbalik. Berkat pemerintahan terpusat yang mapan dan kuat yang didirikan William dan yang terus dipertahankan oleh para pengganti sesudahnya, begitu pula berkat sumber dana militer yang dikuasai oleh pemerintahannya, Inggris tak pernah lagi dijamah orang. Malah, lalu gilirannya dia tak henti-hentinya terlibat dalam operasi militer di negeri lain. Karena itu lumrahlah jika kekuatan Eropa meluas ke negeri-negeri lain, dan lumrahlah bilamana Inggris berkemampuan punya lebih banyak daerah jajahan ketimbang negeri-negeri Eropa lain mana pun. Keruan saja, orang tidak bisa bilang hanya semata-mata berkat William Sang Penakluk terjadinya semua perkembangan maju Inggris dalam sejarah. Tetapi yang sudah pasti dan tak perlu syak lagi penaklukan orang Norman merupakan faktor tak langsung dari segala kejadian yang timbul sesudahnya. Pengaruh jangka panjang William dengan sendirinya amatlah besar.
Baca Selengkapnya - Tokoh Penaklukan Inggris

Tokoh Perintis Kedokteran Modern

Umat Islam di waktu kebangkitan Islam mencoba untuk melengkapkan diri dengan lebih daripada satu bidang il*mu sebagaimana yang disarankan Islam sendiri. Salah seorang yang berjaya berbuat demikian ialah Abu Ali al-Husain Ibn Abdullah Ibn Sina atau lebih dikenali sebagai Ibn Sina (Avicenna). Ibnu Sina merupakan sarjana politik islam yang multi komplek. Di dunia barat Ibnu Sina terkenal dengan nama Avicenna yang dilahirkan di Balkh Bukhara Rusia pada tahun 370 H/980 M dalam sebuah keluarga berada.

Mulai belajar Al Quran pada umur 5 tahun dan pada umur 10 tahun telah menghafal Al Quran. Pada usia 16 tahun ia telah mencapai hasrat akan inti ilmu kedokteran dan membaca beragam buku yang tersedia. Ibnu Sina bukan hanya terkenal ahli pengobatan kelas pertama ia juga ahli sains dan falsafah. Ahli politik dan kemasyarakatan yang lincah dan berkaliber. Di sanalah beliau mendalami bidang bahasa dan sastera. Setelah menguasai ilmu itu, beliau mula berminat dengan ilmu akal di usia 20 tahun. Mempelajari logik, geometri dan buku Almagest daripada Abu Abdullah al-Natali, rekan bapanya. Kemudian, belajar ilmu sains, fiqh dan perubatan daripada guru yang berlainan.

Ibnu Sina dikenal sebagai the faher of doctors (bapak kedokteran). Selain kedokteran, ia juga menguasai fisika, matematika, astronomi, sejarah, dan filsafat. Beliau dikenang sebagai ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek fikiran. Ia mengatakan, bahwa temperatur, makanan, minuman, limbah, udara, keseimbangan gerak dan fikiran, tidur dan kerja mempengaruhi kesehatan, itu semua terbukti, dan sekarang menjadi masalah lingkungan yang utama.

Dari sejumlah risalah kesehatannya, Ibnu Sina punya dua teori segitiga pengobatan. Pertama, Triangular Theory of Islamic Medicine yang menyatakan kaitan antara Allah, manusia, dan pengobatan. Teori kedua, adanya 'hubungan antara badan, fikiran, dan semangat' pada kesehatan manusia. Sebagai dokter, ia lebih suka tindakan preventif daripada kuratif dan selalu menguatkan aspek spiritual dan fisik pasien secara simultan dalam pengobatannya. Katanya, udara yang terkontaminasi uap dari rawa, danau, saluran drainase, asap atau jelaga dapat membahayakan kesehatan. Kini diketahui, gas itu adalah hasil proses anaerobik air limbah yakni CH4 (metana), H2S dan NH3.

Topik artikelnya yang lain adalah tentang penyakit jantung yang ada di dalam Kitab Adwiyat al-Qalbiyah (risalah obat untuk sakit jantung). Kitab ini diterjemahkan Arnold of Villanova dengan judul De Viribus Cordis di Spanyol. Karya lainnya, Urjuzah fit Tibb, sebuah manual medis, dibahasalatinkan oleh Armengaud Blasius (meninggal tahun 1312) menjadi Cantica di Montpellier, Perancis. Termasuk, risalah penyakit malaria yang diadopsi sembilan abad kemudian oleh Prof Wagner von Jauree dari Vienna sehingga menerima Nobel bidang fisiologi tahun 1927.

Buku-buku karangan beliau meliputi berbagai bidang Ilmu, dari falsafah Umum, Logika, Sastra, ilmu alam psychologi, kedokteran, kimia, matematika dan lainnya termasuk tafsir Al Quran. Buku karangan beliau yang paling terkenal adalah Al Qonun fit Thibb (Canon of medicine = konstitusi ilmu kedokteran) dan As Syifa (buku tentang pengobatan/penyembuhan). Mendapat pencapaian yang tinggi dalam ilmu perubatan dan mengajar para doktor untuk menambahkan ilmu mereka. Memperoleh penghormatan setelah berjaya merawati Putera Nuh Ibn Nas al-Samani dengan dibenarkan menggunakan perpustakaan istana yang kaya dengan buku yang sukar diperolehi dan mendapat ilmu yang banyak dari situ. Kelayakan membolehkannya menerima gelaran Mahaguru Pertama (al-Syaikh al-Ra�is).

Pada tahun 1010 beliau pernah menjadi buronan Penguasa Amir Syamsud Dawlah dan pada tahun 1022 beliau dipenjarakan selama 4 bulan. Namun masa penjara ini menjadi kan hikmah bagi beliau dengan menghasilkan 3 buah karya buku yang bernilai tinggi yaitu : Al Hidayah, Al Hayy bin Yaqzhan dan Kitab al Qaulanj. Beliau memilih aliran al-Farabi dalam bidang falsafah dan mengatasinya dalam penyusunan ilmu falsafah dan sains Islam. Digelar guru ketiga dalam ilmu logik kerana cemerlang. Begitu juga dalam syair, prosa, matematik, falak dan muzik. Menghasilkan buku2 seperti al-Qanun dan al-Najah. Beliau berpendapat, ilmu matematik boleh digunakan untuk mengenal Tuhan. Percaya bahwa tanpa tubuh yang tahan, ubat pun tidak berguna. Pada bulan Ramadhan tahun 428 H/1037M beliau meninggal di Hamadhan Iran pada usia 58 tahun
Baca Selengkapnya - Tokoh Perintis Kedokteran Modern

Ibnu al-Haitham - Pelopor Ilmu Optik

Ibn al-Haitham
Sarjana yang menguasai ilmu falsafah dan sains antaranya ialah Abu Ali Muhammad Ibn al-Hasan Ibn al-Haitham, Alhazen/alhuzen adalah nama yang dikenal didunia barat. Beliau lahir di Basrah pada tahun 965m, meninggal di Mesir pada 1039M sebagai ahli optik, matematika dan astronomi. Memulakan hidup di Basrah dengan bekerja sambil belajar. Setelah beberapa lama menjadi pegawai pemerintah di sana, beliau memutuskan untuk menumpukan perhatian kepada pengajian dan penulisan.

Kemasyuran namanya membuat raja dinasti fatimah di mesir saat itu Al-Hakim Bin Amirillah (386-411 H/996-1021 M) untuk bisa mengatur banjir sungai Nil, yang kerap mengenangi lahan pertanian di mesir. Pernah tinggal di Mesir dan mengkritik aliran sungai Nil hingga mendapat perhatian serius pemerintah Mesir. Menjelajah jauh ke Aswan untuk menyelidik sungai itu. Tapi karena menurutnya itu tidak mungkin, untuk melindungi dirinya dari amarah peguasa saat itu dia berpura-pura sakit ingatan dan tidak diketahui kehidupannya setelah itu. Faedah diperoleh di Universiti al-Azhar apabila dapat menyalin buku matematik dan falak. Tahun-tahun terakhir hidupnya ia banyak menyalin naskah matematika dan meninggal tenang di Cairo.

Dikenali sebagai seorang yang teliti dan berhati-hati. Menulis tentang berbagai ilmu sains dan sastera. Banyak daripadanya adalah dalam bentuk risalah dan makalah. Berpendapat yang kebenaran hanyalah satu. Antara usaha beliau yang masyhur ialah kajian tentang optik dan penglihatan. Teori Muslim yang kekal digunakan hingga ke hari ini seperti teori Ibn Haitham yang mengemukakan bahwa cahaya terpancar dan melantun menghasilkan sudut yang sama secara normal pada permukaan yang melantun cahaya itu dan jenis cahaya yang berlainan bergerak secara lurus.

Ibnu Haitham menelurkan 200 karya tulis, antara lain tulisannya Maqalah fi Istikhraj Samt al-Qiblah (tentang teorama kota), Maqalah Fi Hayat al-Alam (astronomi), Kitab Fi al-Minasit (kamus optika), Fi al-maraya al-Muhriqah bi al-Dawair (tentang cermin yang dapat membakar), Maqalah Fi daw�al-Qamar (membahas cahaya dan gerak-gerik langit), fi Surah al-kusuf (mengenai penggunaan camera obscura/kamar gelap pada pengamatan gerhana matahari). Zawahir al-hasaq (tentang gejala senja), semua karyanya di terjemahkan kedalam bahasa eropa.

Dalam Bidang optika Ibnu Haitham mengadakan eksperimen untuk menentukan gerak rektiliner cahaya, sifat bayangan, penggunaan lensa, camera obscura, membuat lensa dan cermin lengkung. Temuan ilmiahnya yang terkenal adalah pendapatnya bahwa sinar cahaya bergerak mulai dari obyek dan berjalan menuju kemata. Benda akan terliht karena ia memantulkan sinar kedalam mata, Retina mata adalah tempat penglihatah dan bukan yang mengeluarkan cahaya. pendapat ini adalah kebalikan dair apa yang dikemukakan oleh Euclides dan ptolemaeus, pemikir Yunani yang berpendapat bahwa benda terlihat karena memancarkan cahaya.

Ibnu Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ tercetuslah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan bernama Tricella mengetahui hal tersebut 500 tahun kemudian. Ibnu Haitham juga telah menengarai perihal gaya gravitasi bumi sebelum Issac Newton mengetahuinya.

Teori Ibnu Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan Barat untuk menghasilkan tayangan gambar. Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antaranya adalah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Dalam kajiannya, beliau juga berjaya menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya. Didalam bukunya Mizan al-Hikmah, ibn Haytam membahas density atmosphere dan hibungan ataranya dan tingginya, dia juga mepelajari refraksi atmosphere.

Ibnu Al Haitham wafat tahun 1039 sebagai pelopor di bidang optik dengan kamus optiknya (Kitab Al Manazhir) jauh sebelum Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Keppler, dan Newton, penemu hukum pemantulan dan pembiasan cahaya (jauh sebelum Snellius), penemu alat ukur ketinggian bintang kutub, menerangkan pertambahan ukuran bintang-bintang dekat zenit.
Baca Selengkapnya - Ibnu al-Haitham - Pelopor Ilmu Optik

Ilmuwan Astronomi Terbesar Islam

Al-Battani
Al-Battani adalah seorang pakar ilmu falak Islam Nama lengkapnya adalah Abdullah Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan al-harrani al-Raqi al-Battani. Ilmu falak menjadi ilmu yang sangat diminati pada zaman kebangkitan Islam. Ilmu ini memperkatakan tentang pergerakan bintang dan kaitannya dengan bumi. Pakar-pakar falak pada zaman Abbasiyah dilantik sebagai pegawai-pegawai yang bertanggung-jawab dalam menasehati hal-hal astronomi.

Pencapaian sangat besar, ilmu-ilmu terkumpul dari pelbagai negara. Sumbangan al-Battani yang dapat dilihat dalam ilmu geometri, fizik, penaksiran dan kaji bintang. Beliau membetulkan kesilapan Batlaimus dari Yunani dalam bukunya, al-Mijisti. Mukadimahnya ialah kebaikan ilmu falak. Kajian dijalankan di balai cerap bintang di Rakqah. Ada juga dijelaskan hubungan ilmu falak dengan ilmu nujum, pergerakan cakerawala dan kesan-kesannya terhadap kejadian di bumi. Ilmu nujum disimpulkan sebagai karut semata.

Al Battani wafat tahun 929 sebagai ahli astronom terbesar Islam, beliau mengetahui jarak bumi dan matahari, penemu alat ukur gaya gravitasi dan alat ukur garis lintang dan busur bumi pada globe dengan ketelitian sampai 3 desimal, beliau menerangkan bahwa bumi berputar pada porosnya, telah mampu mengukur keliling bumi. (jauh sebelum Galileo), table astronomi dan orbit planet-planet.

Tabel Astronomi adalah Ilmu yang menjadi cabang astronomi ini berisi tabel-tabel berdasar hitungan menurut rumus aritmatika. Berkenaan dengan perjalanan gerak khusus bagi setiap bintang serta watak gerakan itu, cepat, lambat, lurus, balik dan seterusnya dengan menghitung gerakan-gerakannya menurut hukum-hukum yang berlaku. Tabel ini mengikuti bermacap prinsip dasar yang sudah ditetapkan yang menyangkut pengetahuan tentang apogee (titik terjauh dari bumi dan peredaran suatu satelit) dan deklinasi-deklinasi, berbagai macam gerakan dan bagaimana hal-hal ini melepaskan satu hingga pada lainnya.

Para sarjana menuliskan pada tabel-tabel disebut tabel-tabel astronomi (azyaj). Penetapan posisi bintang pada sewaktu-waktu tertentu dalam bidang ini disebut penyetelan tabulasi. Sarjana yang menulis beberapa buku tentang masalah ini adalah Al-Battani dan Ibnu Al-Khamad. Ibn ishaq sarjana yang melakukan observasi astronomi pada 619H/1222M
Baca Selengkapnya - Ilmuwan Astronomi Terbesar Islam

Tokoh Filsafat Sejarah Islam

Nama penuh ialah Abu Ali Ahmad Ibn Muhammmad Ibn Ya�kub Ibn Maskawaih. Lahir pada 941M di Rayy, sebuah kota yang berada di Iran. Hingga beranjak dewasa, ia habiskan waktunya di tanah kelahirannya. Seorang doktor yang ulung dan berkepakaran tinggi. Ahli sejarah berkemampuan tinggi, sarjana ilmu akhlak yang mahir dan berpengetahuan luas dalam bidang bahasa, sastera dan ilmu-ilmu klasik. Buku-buku beliau ialah : Uns al-Farid, Tajarub al-Umam (sejarah), kitab al-Tabikh (makanan) dan al-Asyribah (minuman). Juga, kitab al-Adwiah al-Mufradah (obat2an), kitab al-Fauz al-Saghir (metafizik). Pendapatnya, setiap perkara di dunia ada peranannya bersama. Akhlak tertinggi ialah lahirnya perbuatan baik secara teratur. Anak-anak perlu dilatih sejak kecil supaya nilai-nilai murni tertanam dalam jiwa mereka.

Ibn Miskawayh hidup Abad 10 dimana pada saat itu Dinasti Abasia berkuasa, penerjemahaan karya-karya dari berbagai bidang ilmu ke dalam bahasa Arab. Tak ayal jika banyak Dar al-Ilm (semacam perpustakaan umum) didirikan. Bukan hanya di pusat pemerintahan, Baghdad, tetapi juga di Kairo, Kordoba, dan di belahan dunia Islam lainnya. Ibn Miskawayh meninggalkan kota kelahirannya menuju Baghdad, Irak. Ia bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan umum pada masa pemerintah dinasti Abasid. Ia bekerja di sana hingga beberapa kali pergantian kekuasaan terjadi. Perpustakaan bagi dirinya merupakan sekolah yang membuatnya mampu berinteraksi dengan berbagai ilmu pengetahuan. Dengan kedudukan sebagai pustakawan di Perpustakaan Malik �Adhdud Daulah, beliau dikenali sebagai �al-Khazin�.

Ia secara tekun dan serius melakukan kajian di bidang filsafat, sejarah dan kedokteran, bahkan kimia. Di antara kajian yang menjadi perhatian utamanya adalah filsafat Yunani dan sejarah. Kedua kajian inilah di kemudian hari mengantarnya menjadi intelektual yang mengagumkan dalam kedua bidang tersebut. Islam humanis. Pasalnya ia memiliki kecenderungan agar Islam dapat masuk ke dalam sistem praktik rasional yang lebih luas pada semua ranah kemanusiaan. Dengan kajian filsafat Yunani ia kemudian terpengaruh oleh pemikiran Neoplatonisme baik pada sisi teori maupun praktik. Label humanis bagi Ibn Miskawayh juga disematkan oleh kalangan pemikir Muslim, misalnya, Mohamed Arkoun pada 1969 menyematkan label terhadap dirinya sebagai seorang humanis. Namun hal ini dilihat dalam sudut pandang tradisi intelektual Islam, bukan dalam tradisi intelektual humanisme Eropa.

Dalam kajian filsafat etika, Ibn Miskawayh menelurkan karya monumental yaitu Tahdib al-Akhlaq (pembinaan akhlak). Dalam kitab yang terdiri atas tujuh bagian ini, secara umum ia membicarakan bagaimana seseorang dapat mencapai kebahagiaan tertinggi melalui moral yang sehat. Hal ini menggambarkan bagaimana berbagai bagian jiwa diharmonikan untuk mencapai kebahagiaan. Ini adalah peran filsuf moral atau etika memberikan resep bagi kesehatan moral yang berpijak pada kombinasi pengembangan intelektual dan praktik keseharian. Pada bagian awal dalam kitabnya, ia membicarakan tentang jiwa dan sifat-sifatnya. Seseorang akan mampu menggapai kebahagiaan hidup jika ia mampu menciptakan kebahagiaan moral dengan memenuhi sifat-sifat jiwa. Di antaranya adalah kedahagaan jiwa terhadap asupan ilmu.

Ibn Miskwayh memandang bahwa ilmu akan menuntun manusia untuk tak hanya bergantung kepada hal yang bersifat materi. Selanjutnya akan membuat manusia memiliki kebijaksanaan dalam meniti hidup yang akhirnya menjadikannya sebagai manusia yang sempurna. Itulah, kata Miskawayh, salah satu sifat yang dimiliki oleh jiwa. Dalam penjelasan berikutnya, ia menguraikan tentang jenis kebahagiaan dan sifat-sifat yang dimilikinya. Dalam pandangannnya, setiap manusia mampu mencapai setiap jenis kebahagiaan dengan cara memenuhi sifat-sifat kebahagiaan itu. Ada dua hal yang dapat mempengaruhi manusia dalam mencapai kebahagiaan itu, yaitu kondisi eskternal dan internal dirinya. Kondisi internal yang mempengaruhi pemikiran dan arah moral seseorang adalah kesehatan tubuh dan bagaimana kemampuan dirinya mengendalikan temperamen. Sedangkan kondisi eskternal adalah keadaan yang terkait dengan hubungan dirinya dengan orang lain serta lingkungan di sekitarnya. Di dalamnya termasuk, teman sepergaulan, anak-anaknya dan kesejahteraan dirinya.

Kedua kondisi inilah yang kemudian memperkaya jiwanya dalam mencapai kebahagiaan dirinya. Selain Tahdib al-Akhlaq, ia juga menulis kitab yang bertajuk Jawidan Khirad (hikmah yang tak lekang waktu) dan Tartib as-Saadah (kaidah kebahagiaan). Karya-karya tersebut mendapatkan pujian besar dari para ilmuwan barat dan dianggap sebagai karya yang dapat disejajarkan dengan Nicomachean Ethics karya Aristoteles. Ia juga menuliskan karya lain di bidang etika yaitu al-Fauz al-Akbar (kemenangan besar), al-Fauz al-asghar (kemenangan kecil) dianggap sebagai karya filsafat yang sejajar dengan karya Al-Farabi, Arau Ahl almadinah (pikiran penduduk kota). Kemudian Ajwibah wa al-Asilah fi an-Nafs wa al-Aql as-Siyar (tentang aturan hidup) dan Taharat an-Nafs (suci dari nafsu).

Sementara itu, dalam kajian sejarah Ibn Miskawayh menelurkan pula karya monumental. Salah satu karyanya adalah Tajarib al-Umam (pengalaman bangsa-bangsa), dianggap karyanya yang terbaik dalam bidang sejarah. Meski tak banyak, dalam bidang kedokteran ia menghasilkan karya yang bertajuk al-Asyribah, merupakan kajian tentang minuman dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Setelah lama ia berada di Baghdad untuk belajar dan bekerja dengan berbagai karya gemilangnya, Ibn Miskawayh kemudian kembali ke Iran, tepatnya ke Kota Isfahan. Beberapa lama setelah kepulangan ke negerinya sendiri, Ibn Miskawayh meninggal pada 16 Februari 1030 M dalam usia 90 tahun.
Baca Selengkapnya - Tokoh Filsafat Sejarah Islam

Tokoh Ilmu Pembedahan Islam

Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas al-Zahrawi merupakan pakar bedah Islam terkenal yang lahir tahun 936 di Al-Zahra 6 mil Cordoba Andalusia, dikenali di Eropah sebagai Abulcasis merupakan pengarang �Kitab al-Tasrif� (juga dikenali sebagai Kitab al-Zahrawi) dan Ibnu al-Quff (1233-1286M) pengarang �Kitab al-Umbda�. Mereka telah menggunakan pelbagai peralatan rekaan sendiri dan telah mendiskripsikan ilmu ini dengan jelas hingga karya-karya mereka dijadikan buku teks di Eropah untuk beberapa abad lamanya. Al-Zahrawi membuat alat bedah/pembedahan, teknik dan jenis pengoperasian, pengembangan ilmu kedokteran gigi dan operasi gigi serta peralatan bedah gigi.

Al-Zahrawi termasuk dokter bedah muslim yang terkenal. Dunia eropa mengakuinya dan menjadikan bukunya sebagai acuan pelajaran kedokteran bedah dan sebagai kurikulum kedokteran eropa selama berabad-abad. Bukunya tersebut yang berjudul At-Tasrif Liman Ajiza �an at Ta�lif (The method of medicine). At Tasrif merupakan encyclopedi yang memuat 30 volume buku. Gherrad of Cremona merupakan buku pertama hasil terjemahan buku Al_zahrawi ke bahasa latin diabad pertengahan.

Seperti yang disebut oleh ahli bedah eropa Pietro Argallata (meninggal tahun 1424) � Al-Zahrawi as �without doubt the chief of all surgeos�.(al-Zahrawi adalah bapak ilmu bedah kedokteran). Dokter terkenal asal perancis Jacques Delechamps (1513-1588) mengunakan At-Tasrif sebagai acuan saat itu. Al-Zahrawi membuat banyak instrument bedah seperti alat untuk memeriksa telinga, instrumen memeriksa uretra, alat untuk mengeluarkan benda asing dari tenggorokan Zahrawi dan mempunyai sepesialisasi pembedahan dengan cauterisasi dan
dalam lebih dari 50 tehnik operasi yang berbeda-beda.

Al-Zahrawi yang pertama kali mengemukakan cara operasi pada kanker payudara secara terperinci, operasi pengangkatan batu kandung kemih (Bladder Stone), Kista Thyroid (Thyroid Cyst) , Operasi pada Gigi (dental operation). Adakah saat ini dokter bedah yang menguasai semua operasi bedah , seperti Al-Zahrawi. Yang menguasai bedah umum , bedah gigi, bahkan membuat sendiri instrumennya. Al-Zahrawi pantas mendapatkan Nobel , karena karyanya sangat fenomental, dipakai oleh dokter bedah di eropa . sampai 5 abad kedepan.

Dalam dunia kedokteran, nama Albucasis alias Al Zahrawi tidak pernah luntur. Ia adalah penemuan penyakit hemofilia. Penyakit ini sebenarnya telah ada sejak lama sekali dan belum memiliki nama. Talmud, yaitu sekumpulan tulisan para rabi Yahudi, 2 abad setelah Masehi menyatakan bahwa seorang bayi laki-laki tidak harus dikhitan jika dua kakak laki-lakinya mengalami kematian akibat dikhitan. Titik terang ditemukan setelah Al Zahrawi pada abad ke-12 menulis dalam bukunya mengenai sebuah keluarga yang setiap anak laki-lakinya meninggal setelah terjadi perdarahan akibat luka kecil. Ia menduga hal tersebut tidak terjadi secara kebetulan.

Kata hemofilia pertama kali muncul pada sebuah tulisan yang ditulis oleh Hopff di Universitas Zurich, tahun 1828. Dan menurut ensiklopedia Britanica, istilah hemofilia (haemophilia) pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter berkebangsaan Jerman, Johann Lukas Schonlein (1793 � 1864), pada tahun 1928. Lukas menelusur aneka catatan kedokteran, termasuk tulisan Al Zahrawi atau Albucasis itu. Al Zahrawi wafat tahun 1013, Beliau juga dokter pribadi raja Al-Hakam-II dari Spanyol.
Baca Selengkapnya - Tokoh Ilmu Pembedahan Islam

Tokoh Tasawuf Al Junayd

"Kitab ini yaitu Al-Qur�an adalah kitab paling mulia dan paling lengkap. Syariah kita adalah aturan hidup yang paling jelas dan paling rinci. Thariqat kita, yakni jalan ahli tasawuf, dikuatkan dengan kitab dan sunnah. Maka barang siapa belum mendalami al-Qur�an, memelihara Sunnah dan memahami makna-maknanya tidak boleh di ikuti." Ia juga berkata kepada sahabat-sabahatnya : "Seandainya kamu melihat seseorang terbang di udara maka janganlah kamu meyakininya hingga melihat perbuatannya berkaitan dengan perintah dan larangan Allah. Jika kamu melihat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka kamu boleh mempercayai dan mengikutinya. Tetapi jika kamu melihat ia melanggar perintah dan larangan itu maka jauhilah dia."

"Manakala Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, Dia akan membawanya ke lingkungan para Sufi dan menjauhkannya dari kaum ulama pembaca buku." Dikatakan kepada Abdullah bin Sa�id bin Kilab, "Anda berbicara pandangan masing-masing ulama. Lalu di sana ada seorang tokoh yang dipanggil dengan nama al-Junayd. Lihatlah, apakah Anda kontra atau tidak?" Abdullah lalu menghadiri majelis al-Junayd. Ia bertanya kepada al-Junayd tentang tauhid, lalu Junayd menjawabnya. Namun Abdullah kebingungan. Lantas kembali bertanya kepada al-Junayd, "Tolong Anda ulang ucapan tadi bagiku!" Al-Junayd mengulangi, namun dengan ungkapan yang lain. Abdullah lalu berkata, "Wah, ini lain lagi, aku tidak mampu menghafalnya. Tolonglah Anda ulangi sekali lagi!" Lantas al-Junayd pun mengulanginya, tetapi dengan ungkapan yang lain lagi. Abdullah berkata, "Tidak mungkin bagiku memahami apa yang Anda ucapkan. Tolonglah Anda uraikan untuk kami!" Al-Junayd menjawab, "Kalau Anda memperkenankannya, aku akan menguraikannya." Lalu Abdullah berdiri, dan berkata akan keutamaan al-Junayd serta keunggulan moralnya.

"Apabila prinsip-prinsip kaum Sufi merupakan prinsip paling sahih, dan para syeikhnya merupakan tokoh besar manusia, ulamanya adalah yang paling alim di antara manusia. Bagi para murid yang tunduk kepadanya, bila sang murid itu termasuk ahli penempuh dan penahap tujuan mereka, maka para syeikh inilah yang menjaga apa yang teristimewa, berupa terbukanya kegaiban. Karenanya, tidak dibutuhkan lagi bergaul (terkait) dengan orang yang ada di luar golongan ini. Bila ingin mengikuti jalan Sunnah, sementara dirinya tidak kompeten untuk mandiri dalam hujjah, lalu ingin menahap wilayah bertaklid agar bisa sampai pada kebenaran, hendaknya ia bertaklid kepada ulama salafnya. Dan hendaknya bersama jalan generasi Sufi ini, sebab, mereka lebih utama dari yang lain."

Al-Junayd berkata, "Jika Anda mengetahui bahwa Allah swt. memiliki ilmu di bawah atap langit ini yang lebih mulia daripada ilmu tasawuf, dimana kita berbicara di dalamnya dengan sahabat-sahabat dan teman kita, tentu aku akan berjalan dan menuju ilmu tadi." Makna Hakikat Terdalam "Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu dengan-Nya." Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt. tanpa keterikatan apa pun."

"Tasawuf adalah perang tanpa kompromi." Dia berkata pula, "Para Sufi adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka." Selanjutnya dia juga menjelaskan lagi, "Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang disertai penyimakan, dan tindakan yang didasari Sunnah." "Kaum Sufi adalah seperti bumi, selalu semua kotoran dicampakkan kepadanya, namun tidak menumbuhkan kecuali segala tumbuhan yang baik." Dia juga mengatakan, "Seorang Sufi adalah bagaikan bumi, yang di injak orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, memayungi segala yang ada; seperti air hujan, mengairi segala sesuatu." Dia melanjutkan, "jika engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya rusak."
Baca Selengkapnya - Tokoh Tasawuf Al Junayd

Tokoh Perintis Kedokteran Islam

Masyarakat Islam menguasai kepakaran bidang pengobatan dan juga mendalami teknik perubatan Kaldan, Parsi, India malah Arab Jahiliah. Kajian-kajian lanjut mengenai pengobatan dikenali sebagai pengobatan Islam. Muhammad Ar Razi adalah salah satu putera mahkota intelektualisme Islam. Selain Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal sebagai perintis awal ilmu kedokteran, Muhammad bin Zakaria Ar Razi (lebih dikenal dengan nama Ar Razi) juga menduduki derajat sebagai perintis kedokteran modern. Abu Bakr al-Razi mendapat gelaran Gale (pakar bedah Yunan). Dilahirkan di bandar al-Rayy, utara Teheran, Iran, pada 864 M, Ar Razi yang bernama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar Razi itu sejak kecil telah menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Mula pelajari pengobatan setelah berusia 30 tahun.

Namun demikian, ia yang dididik dan dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat, sebenarnya baru tertarik dan menekuni secara serius masalah-masalah kedokteran justru di usia tua. Hanya saja, meski keseriusannya terhadap disiplin ilmu yang satu ini telah ada sejak muda, kepakaran dan kejeniusan Ar Razi pada bidang kedokteran jauh melampaui dari keahliannya di masa tua. Hal inilah yang menempatkan dirinya pada deretan ilmuwan Muslim yang sangat disegani dan dihormati dunia Barat.

Guru pertama ialah a-Bakhi, pengembara yang ada ketokohan bidang falsafah. Guru kedua, Abu al-Hassan Ali Ibn Raban al-Tabari, tokoh pengobatan dari Tabristan. Kepakaran al-Razi menjadikan beliau pengarah hospital umum al-Rai buat seketika. Kemudian, menjadi pengarah hospital �Adhudi, Baghdad. Menetap di sana sehingga meniggal dunia pada 924M. Juga ada karya dalam logik, ketuhanan, psikologi, bedah mata dan sebagainya. Antara buku beliau ialah al-Hawi dan al-Mansuri. Turut menulis buku tentang etika doktor dan penjagaan kesihatan. Digolongkan dalam ahli perubatan kelas pertama. Orang pertama menggunakan bahan kimia sebagai ubat. Menggunakan kaedah psikologi dan rawatan dalam merawat pesakit. Ada pandangan sendiri dalam bidang kimia, sains dan ketuhanan.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan, Ar Razi sebenarnya telah menggeluti filsafat, kimia, matematika, dan kesastraan sejak muda. Mengutip ahli sejarah Ibnu Khallikan, seorang penulis biografi Barat, AJ Aberry, dalam pengantar buku Ar Razi, The Spiritual Physic of Rhazes (Penyembuhan Ruhani), menulis, "Di masa mudanya, ia gemar main kecapi dan menekuni musik vokal. Namun ketika beranjak dewasa, dia meninggalkan hobinya ini seraya mengatakan bahwa musik yang berasal dari antara kumis dan jenggot tidak punya daya tarik dan pesona untuk dipuji serta dikagumi."

Sejak inilah, beberapa sumber menyebutkan Ar Razi lebih banyak memfokuskan dirinya pada tradisi intelektualisme di sekitar filsafat, logika, eksakta, dan kedokteran. Yang terakhir ini, seperti disinggung di atas, mendapat porsi khusus dari energinya di usia tua. Pada bidang ini, ia sampai meluangkan waktu khusus ke Baghdad, Irak, guna memperdalam kedokteran. Kala itu, Baghdad dikenal pada puncak keemasan intelektualisme. Baghdad yang kala itu menjadi pusat pemerintahan imperium Bani Abbasiyah, semakin menegaskan diri sebagai pusat ilmu pengetahuan, khususnya ketika tahta kekuasaan diperintah oleh Khalifah Al Manshur (754-775 M), Harun Al Rasyid (wafat 809 M), hingga Khalifah Al Makmun (813-833 M).

Di kota Baghdad ini, Ar Razi berguru pada Humayun Ibnu Ishaq, seorang ulama yang menguasai ilmu pengobatan dengan baik. Dari guru yang telah lama berpraktik di bidang pengobatan inilah, Ar Razi menguasai dengan baik dasar-dasar teknik pengobatan. Sekembali dari Baghdad, Ar Razi memutuskan untuk membaktikan dirinya pada masyarakat, khususnya pada bidang yang selama ini ia tekuni, kedokteran. Dalam waktu tak lama, lantaran kepakarannya, ia memperoleh perhatian khusus dari penguasa setempat. Karena reputasi dan kelebihannya itulah pemerintah kemudian memutuskan memberi amanat pada dirinya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Teheran. Selain menjadi dokter, tokoh yang dikenal pula dengan kerendahan hatinya ini tak kurang mengoptimalkan pengabdiannya dengan mengajar.

Tercatat, para mahasiswanya tak hanya berdatangan dari berbagai penjuru dunia Islam, tapi juga dari negara-negara Barat. Setiap kuliahnya selalu dipadati para mahasiswa. Dan patut dicatat, Ar Razi menerapkan metode perkuliahan yang bisa dikata unik tapi sangat mendidik. Yakni perkuliahan diatur sedemikian rupa agar beberapa penceramah senior dan yunior dapat membahas berbagai macam pertanyaan yang mampu mereka jawab, dan hanya merujuk kepadanya jika persoalan-persoalan yang melampaui batas jangkauan pengetahuan mereka. Tampaknya, cara ini pula yang kini banyak dikembangkan di mayoritas universitas terkemuka di Barat dan sebagian di dunia Timur.

Dalam perjalanan karirnya ini pula, tokoh yang di Barat dikenal dengan nama Rhazes ini harus meninggalkan pengabdiannya di kota kelahirannya untuk memenuhi penggilan penguasa Baghdad. Di kota ini, penguasa setempat mempercayai Ar Razi sebagai kepala rumah sakit di kota yang juga dikenal dengan sebutan "Kota Seribu Satu Malam" ini. Dengan demikian, selain memberikan teori-teorinya, Ar Razi juga langsung mempraktikkan ilmunya dalam perawatan pasien di berbagai rumah sakit di Teheran dan Baghdad. Selama menekuni dunia pengobatan, Ar Razi dikenal kedokteran modern, khususnya di dunia Barat. Selama 35 tahun ia berpraktik pada disiplin ilmu tersebut, Ar Razi tak hanya berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di Baghdad maupun di Rayy, Teheran. Tapi sekaligus juga daerah-daerah di luar kedua kota itu tak kurang ia kunjungi untuk pengabdian pada masyarakat setempat

Di tengah-tengah keseriusan dan makin meningkatnya penguasaan ilmu kedokteran, Ar Razi yang makin tua usia terserang penyakit katarak hingga membuat matanya buta. Penglihatannya praktis tak berfungsi. Ketika ia dianjurkan untuk berbekam, konon Ar Razi menjawab, "Tidak, aku sudah demikian lama melihat seluruh dunia ini sehingga aku pun lelah karenanya." Pengabdian dan kejeniusan Ar Razi ini diakui Barat. Banyak ilmuwan Barat menyebutnya sebagai pioner terbesar dunia Islam di bidang kedokteran. "Razhes merupakan tabib (dokter) terbesar dunia Islam, dan satu yang terbesar sepanjang sejarah," jelas Max Mayerhof. Sementara sejarawan Barat terkenal, George Sarton mengomentari Ar Razi dengan cerdas sekali. Katanya, "Ar Razi dari Persia itu tidak hanya tabib terbesar dunia Islam dan Abad Pertengahan. Ia juga kimiawan dan fisikawan. Ia bisa dinyatakan sebagai salah seorang perintis latrokimia zaman Renaisans. Maju di bidang teori, ia memadukan pengetahuannya yang luas melalui kebijaksanaan Hippokratis." Maka pada tempatnya bila umat manusia, Barat khususnya, berutang budi dan mesti berterima kasih pada sosok ini.

Baca Selengkapnya - Tokoh Perintis Kedokteran Islam

Tokoh Pelopor Filsafat Islam

AL-KHINDIAL-KHINDI

Al-Khindi adalah Bapak Falsafah Islam. Banyak pihak tertarik untuk mendalami falsafah apabila falsafah Greek dibawa masuk ke dalam masyarakat Islam, Al-Khindi ialah salah seorang daripadanya. Nama penuh- Abu Yusuf Ya�aqub bin Ishak bin al-Sabah al-Kindi, keturunan raja2 Ghasasinah dan lahir di Basrah. Bapanya ialah pegawai kerajaan Abbasiyah. Beliau gigih menuntut ilmu ketika di Baghdad tetapi hanya terkenal pada zaman Khalifah al-Makmun. Menjadi guru kepada anak khalifah pada zaman pemerintahan al-Mu�tasin iaitu Ahmad. Beliau seorang ahli falsafah Islam yang agung.

Pengetahuan yang luas dalam ilmu dan pemikiran Greek dan hampir mahir dalam semua cabang yang ada. Jumlah karyanya adalah dianggarkan lebih daripada 270 buah, mencakupi bidang metafizik, matematik, logik, falak, geografi, muzik, geometri, perubatan dan ilmu2 lain. Semua iu terkumpul hingga sekarang. Sangat teliti dalam penggunaan istilah dan menjadikan matematik sebagai asas. Minat yang tinggi dan hasil penyelidikan yang luas dalam sains tetapi masih berminat mantafsirkan alam berlandaskan agama. Gemar bertolak ansur dan tidak angkuh dalam hal2 ilmu. Pandangan beliau tentang falsafah ialah matematik perlukan pengendalian.

Al-Kindi membuat beberapa pengujian tentang suhu dan kondensasi. Dalam bukunya berkenaan kimia pewangi dan penyulingan, al-Kindi menerangkan proses-proses pengeluaran pewangi tiruan. Al-Kindi adalah insan berjaya dalam kajian kimia. Buku al-Kindi tentang pengobatan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin bertajuk �The Books of Optics�, Al Khindi wafat tahun 866 sebagai ilmuwan ensiklopedi, pengarang 270 buku, ahli matematika, fisika, musik, kedokteran, farmasi, geografi, ahli filsafat Arab dan Yunani kuno.

AL-SARKASHI

Al-Sarkashi merupakan tokoh Pewaris Ketokohan Al-Khindi yang merupakan ahli keluarga dan anak murid al-Kindi. Nama penuh- Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammmad Ibn Marwan atau lebih dikenali sebagai Ahmad Ibn al-Taiyib al-Sarkashi. Lahir di Sarkhs, sempadan Iran-Rusia. Masyhur dalam perubatan, ilmu warisan masyarakat Arab dan tamadun kuno. Juga ahli bahasa yang baik dan sesekali meriwayatkan hadith termasuklah Hadith �Amru Ibn Muhammad Ibn al-Qasir dan Hadith Ahmad Ibn al-Harth.menjadi Hakim Negara pada zaman pemerintahan al-Mu�tadhid dan sangat rapat dengan pemerintah itu dan menjadi guru dan penasihat. Kelemahan merahsiakan hal2 kerajaan menyebabkan di mati dibunuh al-Mu�tadhid selepas dipenjara 3 tahun. Beliau menulis buku2 mengenai perubatan, masakan dan hal2 fizikal termasuk metafizik.

AL-FARABIAL-FARABI

Orang Islam mula kenal falsafah dengan buku2 daripada Yunani dan Greek. Apa yang boleh dilihat pada sarjana Islam ialah mereka belajar banyak bidang ilmu dalam satu masa. Al-Farabi atau nama sebenarnya Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Ulzagh al-Farabi lahir di Wilayah Wasij berhampiran Parab di Turki pada tahun 874M. Anak seorang tentera yang miskin. Di Baghdad, mempelajari bahasa Arab dengan �Ali Abu Bakr Muhammad ibn al-Sariy Ibn Sahl Ibn al-Siraj yang wafat pada tahun 929M. Apabila Baghdad menghadapi pergolakan politik, beliau berpindah ke Damsyik kemudian ke Halab. Beliau bekerja dengan gaji 4 dirham sehari sedangkan penyair al-Mutanabbi menerima 1000 dinar bagi setiap karyanya.

Al-Farabi lahir miskin dan terus miskin hingga akhir hayat, tidak pernah bekerja secara serius. Beliau juga terkenal dengan kemahiran dalam banyak bahasa, cabang ilmu. Selain itu al-Farabi juga mahir dalam muzik dan menghasilkan Kitab al-Musiqi al-Kabir yang menghuraikan alat2 muzik dan teori2 secara teliti. Irama terbentuk daripada pelbagai nada yang disusun dan pencipta gambus. Pengetahuannya juga luas dalam perubatan. Ahli falsafah yang agung dan boleh digelar guru kedua selepas Aristotle. Antara buku karya al-Farabi ialah Risalah fi al-�Aql-tentang akal manusia, Ihsa� al-�Ulumilmu zaman Yunani dan al-Madhinah al-Fadhilah-falsafah politik. Antara pandangannya pula ialah jantung lebih penting daripada otak, pertarungan ialah sifat semulajadi manusia yang menjurus kepada keadilan. Politik pula, seorang ketua perlu dipilih, dan andainya tiada, seorang wakil sementara perlu dilantik. Al Farabi wafat pada tahun 950 M.

IBN TUFAIL

Ibn Tufail merupakan ahli falsafah, hukum dan politik Beliau dilahirkan lembah Asya, dekat Granada pada 1106M. Menghabiskan sebahagian besar hidupnya dengan perubatan sehingga menjadi menteri. Menjadi pemerintah negeri Morocco yang disegani. Pandai bergaul dan menceburkan diri dalam pendidikan, perubatan, pengadilan dan politik. Kita hanya menerima satu sahaja bukunya iaitu Hay Ibn Yaqzan yang menerangkan satu falsafah dalam diri manusia. Dapat menerima Ibn Sina dan Ibn Bajjah dengan baik tetapi kritis terhadap penulisan terdahulu jadi beliau dapat membuat perbandingan. Buku itui menunjukkan bagaimana beliau menganalisis hubungan antara manusia, akal dan Tuhan. Beliau membuat uraian dan cara2 masalah2 itu. Dalam fizik, diterangkan ada 3 cara kepanasan boleh terjadi iaitu pergerakan, geseran dan pencahayaan. Dalam metafizik, beliau menerangkan bahawa alam ini baru dan berpenghujung.

Baca Selengkapnya - Tokoh Pelopor Filsafat Islam

Tokoh Imam Mazhab Hambali

Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin �Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa�labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar bin Ma�d bin �Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim. Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi�ul Awwal -menurut pendapat yang paling masyhur- tahun 164 H/780 M. Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani �Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia dahulunya adalah seorang panglima.

Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari�, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya. Setelah itu, ia mengunjungi para ulama terkenal di berbagai tempat seperti Kufah, Basrah, Syam, Yaman, Mekkah dan Madinah. Beberapa gurunya antara lain Hammad bin Khalid, Ismail bil Aliyyah, Muzaffar bin Mudrik, Walin bin Muslim, dan Musa bin Tariq. Dari merekalah Hanbali muda mendalami fikih, hadits, tafsir, kalam, dan bahasa. Karena kecerdasan dan ketekunannya, Hanbali dapat menyerap semua pelajaran dengan baik. Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak mudah goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi beliau dorongan semangat. Tidak lupa dia mengingatkan beliau agar tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam masalah kesehatan. Perhatian beliau saat itu memang tengah tertuju kepada keinginan mengambil hadits dari para perawinya. Beliau mengatakan bahwa orang pertama yang darinya beliau mengambil hadits adalah al-Qadhi Abu Yusuf, murid/rekan Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melakukan mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183. Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim sekitar tiga ratus ribu hadits lebih. Pada tahun 186, beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang beliau temui dan mengambil ilmu darinya selama perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di sana adalah Imam Syafi�i. Beliau banyak mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi�i sendiri amat memuliakan diri beliau dan terkadang menjadikan beliau rujukan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. Ulama lain yang menjadi sumber beliau mengambil ilmu adalah Sufyan bin �Uyainah, Ismail bin �Ulayyah, Waki� bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain.

Kecintaannya kepada ilmu begitu luar biasa. Karenanya, setiap kali mendengar ada ulama terkenal di suatu tempat, ia rela menempuh perjalanan jauh dan waktu lama hanya untuk menimba ilmu dari sang ulama. Kecintaan kepada ilmu jua yang menjadikan Hanbali rela tak menikah dalam usia muda. Ia baru menikah setelah usia 40 tahun. Pertama kali, ia menikah dengan Aisyah binti Fadl dan dikaruniai seorang putra bernama Saleh. Ketika Aisyah meninggal, ia menikah kembali dengan Raihanah dan dikarunia putra bernama Abdullah. Istri keduanya pun meninggal dan Hanbali menikah untuk terakhir kalinya dengan seorang jariyah, hamba sahaya wanita bernama Husinah. Darinya ia memperoleh lima orang anak yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muhammad, dan Said. Demikianlah, beliau amat menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal lain. Dan memang senantiasa seperti itulah keadaan beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi manfaat kepada kaum muslimin. Sementara itu, murid-murid beliau berkumpul di sekitarnya, mengambil darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada banyak ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau, Abdullah dan Shalih, Abu Zur �ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan lain-lain.

Imam Hanbali yang dikenal ahli dan pakar hadits ini memang sangat memberikan perhatian besar pada ilmu yang satu ini. Kegigihan dan kesungguhannya telah melahirkan banyak ulama dan perawi hadits terkenal semisal Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud yang tak lain buah didikannya. Karya-karya mereka seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim atau Sunan Abu Daud menjadi kitab hadits standar yang menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia dalam memahami ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah SAW lewat hadits-haditsnya. Kepakaran Imam Hanbali dalam ilmu hadits memang tak diragukan lagi sehingga mengundang banyak tokoh ulama berguru kepadanya. Menurut putra sulungnya, Abdullah bin Ahmad, Imam Hanbali hafal hingga 700.000 hadits di luar kepala. Hadits sejumlah itu, diseleksi secara ketat dan ditulisnya kembali dalam kitab karyanya Al Musnad. Dalam kitab tersebut, hanya 40.000 hadits yang dituliskan kembali dengan susunan berdasarkan tertib nama sahabat yang meriwayatkan. Umumnya hadits dalam kitab ini berderajat sahih dan hanya sedikit yang berderajat dhaif. Berdasar penelitian Abdul Aziz al Khuli, seorang ulama bahasa yang banyak menulis biografi tokoh sahabat, sebenarnya hadits yang termuat dalam Al Musnad berjumlah 30 ribu karena ada sekitar 10 ribu hadits yang berulang.


Imam Hanbali juga dikenal teguh memegang pendirian. Di masa hidupnya, aliran Mu'tazilah tengah berjaya. Dukungan Khalifah Al Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah yang menjadikan aliran ini sebagai madzhab resmi negara membuat kalangan ulama berang. Salah satu ajaran yang dipaksakan penganut Mu'tazilah adalah paham Al-Qur'an merupakan makhluk atau ciptaan Tuhan. Banyak umat Islam yang menolak pandangan itu. Imam Hanbali termasuk yang menentang paham tersebut. Akibatnya, ia pun dipenjara dan disiksa oleh Mu'tasim, putra Al Ma'mun. Setiap hari ia didera dan dipukul. Siksaan ini berlangsung hingga Al Wasiq menggantikan ayahnya, Mu'tasim. Siksaan tersebut makin meneguhkan sikap Hanbali menentang paham sesat itu. Sikapnya itu membuat umat makin bersimpati kepadanya sehingga pengikutnya makin banyak kendati ia mendekam dalam penjara. Sepeninggal Al Wasiq, Imam Hanbali menghirup udara kebebasan. Al Mutawakkil, sang pengganti, membebaskan Imam Hanbali dan memuliakannya. Namanya pun makin terkenal dan banyaklah ulama dari berbagai pelosok belajar kepadanya. Para ulama yang belajar kepadanya antara lain Imam Hasan bin Musa, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Abu Zur'ah Ad Dimasyqi, Imam Abu Zuhrah, Imam Ibnu Abi, dan Imam Abu Bakar Al Asram.


Pada awalnya madzhab Hanbali hanya berkembang di Baghdad. Baru pada abad ke-6 H, madzhab ini berkembang di Mesir. Perkembangan pesat terjadi pada abad ke-11 dan ke-12 H, berkat usaha Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Ibnu Qayyim (w. 751 H). Kedua tokoh inilah yang membuka mata banyak orang untuk memberikan perhatian pada fikih madzhab Hanbali, khususnya dalam bidang muamalah. Kini, madzhab tersebut banyak dianut umat Islam di kawasan Timur Tengah. Hasil karya Imam Hanbali tersebar luas di berbagai lembaga pendidikan keagamaan. Beberapa kitab yang sampai kini jadi kajian antara lain Tafsir Al-Qur'an, An Nasikh wal Mansukh, Jawaban Al-Qur'an, At Tarikh, Taat ar Rasul, dan Al Wara. Kitabnya yang paling terkenal adalah Musnad Ahmad bin Hanbal.

Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun tahun 180 saat pertama kali beliau mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-manasik ash-shagir dan al-kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-radd �ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah(Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitab al-Wara � wa al-Iman, kitab al-�Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha�il ash-Shahabah.

Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi�ul Awwal tahun 241, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah dientukan kepadanya. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya karena beliau sabar dan teguh dalam membelanya.

Tokoh Imam Mazhab Hambali.doc - download (49 kb)

Baca Selengkapnya - Tokoh Imam Mazhab Hambali

Ilmuwan Aljabar Islam Al-Khawarizmi

Al-KhawarizmiMuḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī (Arab: محمد بن موسى الخوارزمي) adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi dan geografi yang berasal dari Persia. Beliau disebut sebagai Bapak Aljabar meski sebagian orang banyak yang mengatakan dia sebagai "Penemu Angka Nol" dan itu sepertinya kurang tepat. Beliau lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad. Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.

Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata logarisme dan logaritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit. Sedikit yang dapat diketahui dari hidup beliau, bahkan lokasi tempat lahirnya sekalipun. Nama beliau mungkin berasal dari Khwarizm (Khiva) yang berada di Provinsi Khurasan pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah (sekarang Xorazm, salah satu provinsi Uzbekistan). Gelar beliau adalah Abū ‘Abdu llāh (Arab: أبو عبد الله) atau Abū Ja’far.

Konsep matematik dalam Islam merupakan ilmu yang berhubung dengan kepercayaan mengesakan Allah S.W.T. Perkataan "Ahda" atau "ahad" dalam firman Allah merupakan suatu simbol Ilmu Hisab (Abdul Rahman Nawas, et.al,1995: 186). Sarjana-sarjana Islam telah memberi sumbangan yang amat besar dan bermakna dalam bidang perkembangan ilmu matematik. Mereka banyak mencipta perkara-perkara baru yang menjadi ilmu matematik lebih mudah dipelajari. Salah satu sumbangan paling besar sarjana Islam di dalam bidang ini ialah memperkenalkan sistem angka baru, termasuklah angka sifar.

Dalam Islam, angka pertama ialah satu (1), bukannya angka kosong atau sifar seperti yang dianuti oleh ahli fikir Barat. Wujudnya satu sebagai angka awal dikaitkan dengan kewujudan Allah. Manakala pendapat angka kosong sebagai terawal adalah pendapat sekular Barat yang menafikan kewujudan Tuhan sebelum wujudnya alam. Sistem angka mula diperkenalkan ke Arab oleh sarjana India bernama Sinhid. Sistem nomor ini telah memainkan peranan yang begitu besar dalam bidang matematik. Tanpa sistem nomor dan angka adalah amat sukar bagi manusia untuk menentukan kuantiti yang difikirkan atau yang diperlukan untuk penjumlahan. Dalam al-Quran banyak ayat-ayat yang menyebut tentang bilangan angka seperti dalam surah al- Nisa' ayat-ayat 10, 11 dan 12 membicarakan tentang waris. Ayat ini menyebut tentang "nisf" (1/2), "rubu" (1/4), "thuluth" (1/3), "sudus" (1/6) dan "thumun" (1/8)

Masyarakat Islam juga melahirkan tokoh2 seperti al-Khawarizmi, Pandagannya dalam algebra banyak berasaskan pandangan al-Khawarizmi Beliau berasal dari Khawarizm atau Khuway, selatan Tasik Aral, Turkistan. Juga dikenali sebagai Abdullah itu kemudian berpindah ke Baghdad. Berkemahiran tinggi dalam bidang matematik, falak, geografi dan sejarah memudahkannya menguasai ilmu2 India dan Greek sekaligus. Beliaulah yang mula2 mengguanakn istilah algebra atau "al-jabr" dalam bahasa Arab. Memperkenalkan sistem angka India kepada orang Arab dan Barat. Istilah matematik, "logaritma" telah dicipta oleh orang Barat bagi mengenang jasa2 beliau. Antara buku beliau yang popular ialah al-Ziq1&2, al-Rakhamah dan al-Tarikh. Yang paling popular ialah al-Jabr wa al-Muqabalah ringkasan buku lain untuk memudahkan pedagang2 membacanya.

Al-KhawarizmiAl-Khawarizmi memperkenalkan beberapa simbol yang sistematik terutama angka sifar. Jadual al-Khawarizmi dan Habasy al-Habib turut membantu mempercepatkan sistem angka India ini terkenal di dunia. Mulai awal abad ke 5H/11M didapati penggunaan sistem angka baru secara meluas dalam penulisan sarjana-sarjana Islam. Karya beliau dalam bidang matematik yang terkenal ialah al-Kitab al- Mukhtasar fi Hisab al-Jabr waal-Muqabalah telah diterjemahkan ke bahasa Latin dan digunakan hingga abad ke 10H/16M dan jadikan asas yang digunakan di Universiti di Barat. Aljabar merupakan nadi ilmu hisab, dunia mengenal sistem nomor yang ada sekarang menerusi buku karya al- Khawarizmi yang diterjemahkan ke dalam bahsa Latin pada tahun 1120 bertajuk De Numero Indorum.

Persaudaraan Pythagoras yang banyak berjasa dalam mengembang dan memajukan ilmu sains khususnya sains matematik, merupakan sebuah pertubuhan kerohania, akademik dan saintefik dengan kecenderungan yang kuat terhadap falsafah. Tokoh matematik seperti Fibonci, Master Jacob dan Leonardo telah terpengaruh dan menceduk teori matematik al-Khawarizmi dalam kajian mereka. Beliau telah membentuk satu kaedah untuk sebarang persamaan. Kaedahnya hisab al-khatayan telah diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard of Cremona seterusnya di terjemah ke Bahasa Inggeris. Angka juga dikenali sebagai algorismus dan logaritma sempena nama al-Khawarizmi

Orang2 pada zaman lampau tidak mengenali angka atau lambang algebra. Walau bagaimanapun, mereka di katakana mengetahui berapa cara menyelesaikan masalah yang belum terbentuk sebagai kaedah yang jelas. Antara yang di sebut termasuklah (A+B)"=A"+2AB+B" Orang-orang Mesir juga mengetahui kira-kira seperti ini. Contoh X"+Y" = 100 Hasilnya y = 3/4x dan x = 8, y = 6 Kiraan inilah kemudiannya menjadi asas sejarah bagi teori Pythagoras, iaitu : A"=B"+C"

Maklumat-maklumat tentang algebra pada kalangan bangsa Mesir boleh didapati daripada tulisan-tulisan ahmasu pada daun bardi. Menjadi asas pada pengembangan kaedah-kaedah algebra di India, dunia arab dan kemudiannya di Eropah pada zaman baru sekarang. Algebra ini tidak pula muncul sebagai suatu ilmu yang tertusun kecuali sesudah ia di terima oleh orangorang Arab. Pengasas ilmu algebra ialah Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi. Al- Gabr- wa al- Muqabalah telah menghuraikan tengtang ilmu tersebut sebagai satu cara menyelesaikan masalah yang di dalamnya terdapat bilangan yang tidak diketahui. Sementara al-Muqabalah pula ialah penyatuan sebutan-sebutan tersebut, misalnya dalam persamaan yang berikut: X" * X = 3X + 5 Oleh itu ,"algebra"nya ialah : X" =3X + X + 5, sementara : "al-Muqabah" pula : X" =4X + 5 Oleh sebab itulah nama algebra dikatakan berasal dari perkataan Arab. Sebutan inilah kemudiannya di pindahkan dalam bahasa Inggris, German dan Perancis.

Keulungan al-Khawarizmi disebabkan beliau mencipta persamaan menyeluruh asas kepada persamaan kuadratik. Contohnya : X" + 21 + 10X. Keulungan beliau ketara karena selama lebih kurang tiga kurung selepas beliau meninggal. Algebra tidak banyak berubah dari apa yang diasaskan beliau. Abu Kamil Syuja' ibn Aslam yang hidup sezaman dengan al-Khawarizmi, telah menulis buku Kamal al-jabr wa Tamamuha wa al-Ziyadatul fi Usulihi. Dalam buku tersebut beliau menguraikan beberapa pekara yang agak rumit dalam buku al-Khawarizmi. Kemudian muncul pula seorang tokoh bernama Abu al-Wafa al-Buzjani. Beliau telah mengulas buku Diophante tentang ilmu hisab dan buku al-jabr wa al-Waqabalah oleh al- Khawarizmi dan juga telah menyatukan aliran India dengan aliran Yunani. Al- Karkhi pun berminat, sementara Umar al-Khayam pula meskipun lebih terkenal sebagai penyair namun beliau juga turut dianggap pakar dalam algebra. Uraian mereka inilah kemudiannya berpindah dari Eropah dan menjadi asas kepada apa yang ada pada hari ini. - 599 Tokoh Ilmuwan Penemu
Baca Selengkapnya - Ilmuwan Aljabar Islam Al-Khawarizmi

Tokoh Imam Mazhab Syafei

Beliau bernama Muhammad bin Idris bin al-�Abbas bin �Utsman bin Syafi� bin as-Saib bin �Ubayd bin �Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin �Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri �Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib. Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah. Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di �Asqalan dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi�, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi�i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi�, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw.

Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi�i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi�i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala� saja.. Nasab Ibu beliau, beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin �Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi�i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi dan faqih dalam urusan agama serta memiliki kemampuan melakukan istinbath.

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya. Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar menjelakan riwayat tersebut bahwa beliau dilahirkan di Ghazzah wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz. Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan. Di Mekkah, Imam Syafi �i dan ibunya tinggal di dekat Syi�bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru yang rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi�i bercerita, �Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, �Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.� Dan kemudian guru itu mengangkat sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.

Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa� karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.

Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah- dan al-Husain bin �Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.

Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-�Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi� �yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin �Uyainah �ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa�id bin Salim, Fudhail bin �Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa� Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal.

Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa�. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa� yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, �Abdul �Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma�il bin Ja�far, Ibrahim bin Sa�d dan masih banyak lagi.

Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.

Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang �Alawiyah. Beliau bersama orang-orang �Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi�i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan �Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.

Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra�yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma�il bin �Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi�i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.

Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.

Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak namun hanya beberapa bulan saja karena di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam sementara Imam Syafi�i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam dan pertentangannya dengan manhaj as-salaf ash-shaleh yang dipegangnya di dalam memahami masalah syariat. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena perubahan itulah, Imam Syafi�i kemudian memutuskan pergi ke Mesir meskipun hati kecilnya menolak. Di Mesir beliau mendapat sambutan dan beliau berdakwah, menebar ilmunya dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhir kehidupannya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya� hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.

Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.
Baca Selengkapnya - Tokoh Imam Mazhab Syafei

Tokoh Khalifah Harun Al Rasyid

Harun Ar-RasyidHarun Ar-Rasyid merupakan salah seorang negarawan yang terulung di dunia. Beliau adalah khalifah kelima kerajaan Abbassiyah yang juga merupakan kemuncak kegemilangan pemerintahan Abbasiyah. Zaman pemerintahan Abbasiyah juga dikatakan sebagai zaman yang paling gemilang dalam sejarah Islam dunia atau zaman keemasan Islam. Pada zaman inilah bermulanya era pembangunan dan perkembangan ilmu pengetahuan di Kota Baghdad. beliau telah berjaya menjadikan Kota Baghdad sebagai pusat perdagangan antarabangsa dan pusat ilmu pengetahuan dunia. Usaha yang dilakukan oleh beliau untuk membangunkan Kota Baghdad sebegitu maju dan membangun tidak mampu ditandingi oleh khalifah-khalifah pada pemerintahan yang lain dalam semua termasuklah dari segi kemajuan, pembangunan, ilmu pengetahuan, kemakmuran dan lain-lain lagi.

Nama penuh Harun ar-Rasyid ialah Harun ar-Rasyid bin Muhammad al-Mahdi. Beliau dilahirkan di Ar-Rayy pada bulan Zulhijjah tahun 145 H bersamaan 756 M. Beliau telah menggantikan saudaranya iaitu al-Hadi sebagai khalifah Baghdad yang kelima dalam pemerintahan Abbasiyah. Beliau merupakan anak yang ketiga dalam keluarga. Sejak dari awal lagi, beliau dikenali sebagai seorang yang pintar dan sukakan ilmu pengetahuan. Tidak hairanlah jika beliau dilihat sebagai seorang yang mempunyai keperibadian yang tinggi serta banyak pengalaman sama ada dalam bidang politik, ketenteraan mahupun dalam bidang pentadbiran awam. Peranan beliau yang paling besar ialah sebagai penaung kepada semua kegiatan ilmu. Baitul Hikmah merupakan hasil usahanya yang paling besar dalam dunia penyebaran ilmu pengetahuan di Kota Baghdad..

Khalifah harun ar-Rasyid dikenali sebagai tokoh negarawan terulung kerana usaha beliau dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Oleh kerana itulah, beliau membuka Baitul Hikmah iaitu institusi kebudayaan dan pusat kegiatan ilmu pengetahuan. Seseorang khalifah sememangnya seorang yang bijak dan berpengetahuan. Dalam mentadbir sesebuah negara, beliau harus tahu bagaimana caranya untuk mentadbir sebuah negara agar dapat menjadi sebuah negara yang aman dan makmur. Disamping itu juga, seseorang khalifah harus tahu untuk membangunkan dan memajukan negara agar menjadi sebuah negara yang maju dalam pelbagai bidang sama ada ekonomi, politik mahupun sosial. Ilmu pengetahuan sangat penting yang seharusnya ada dalam diri seorang khalifah. Beliau juga mempunyai pengalaman yang cukup luas dalam mentadbir Kota Baghdad selama 23 tahun.

Keberanian seseorang khalifah juga amat penting untuk mentadbir sebuah negara agar menjadi sebuah negara yang aman. Tanpa ilmu pengetahuan yang cukup, seorang khalifah tidak akan mampu membawa tentera-tenteranya dalam memerangi musuh untuk mendapatkan keamanan dan kemakmuran. Khalifah Harun ar-Rasyid sendiri begitu cekap dalam menguruskan pentadbiran negara. Beliau telah dapat membanteras segala kekacauan dan pemberontakan di dalam negaranya dengan pelbagai rintangan dan dugaan. Akhirnya, beliau telah berjaya dalam peperaangan tersebut kerana usaha yang dilakukan berhasil antara usaha beliau ialah dengan menyusun semula pasukan tenteranya agar menjadi sebuah pasukan tentera yang berdisiplin dan teratur. Beliau begitu mengambil berat terhadap kredibiliti tentera-tenteranya dan juga memberi perlindungan serta keselamatan untuk kesejahteraan rakyatnya.

Kemajuan intelektual yang dicapai oleh Khalifah Harun ar-Rasyid juga adalah salah satu sumbangan yang besar diberikan oleh baginda. Terdapat buku-buku yang berupa terjemahan ilmu dari luar ataupun disusun oleh intelektual Islam tergolong dalam kemajuan intelektual. Beliau dianggap sebagai penaung bagi semua kegiatan ilmu pengetahuan kerana beliau sering kali menganjurkan majlis forum, syarahan dan perbahasan, yang mana akan dihadiri oleh orang ramai dan golongan intelektual di masjid. Pada majlis seperti inilah, beliau dapat mengenali lebih ramai ilmuan yang datang untuk menuntut ilmu daripadanya. Sebagai seorang khalifah, beliau seharusnya mampu melaksanakan kewajipan dalam menyebarkan ilmu pengetahuan kepada semua masyarakat dalam negaranya.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat juga telah banyak dibuat oleh Khalifah Harun ar-Rasyid. Malah, beliau sendiri telah menjadi simbol kemegahan Islam di Timur dan Barat. Terdapat banyak kota seperti Baghdad, Basrah, Masyul, Damsyik dan Aleppo muncul sebagai kota yang terkenal. Banyak perubahan yang dilakukan oleh beliau dalam membangunkan ekonomi dengan melakukan aktiviti perdagangan, perniagaan dan membawa pedagang-pedagang asing untuk berniaga di Kota Baghdad. Disebabkan usaha inilah, ramai pedagang-pedagang asing yang datang membawa barangan mereka untuk diniagakan di Kota Baghdad. Bahkan, bukan sahaja pedagang-pedagang asing yang datang berniaga, penduduk di Kota Bahgdad sendiri melakukan aktiviti perniagaan sesama mereka.

Beliau juga mengadakan hubungan yang baik dengan kuasa-kuasa asing, antaranya kerajaan Byzantium, Peranchis dan keluarga al-Barmaki. Perhubungan ini bertujuan untuk pendamaian antara kedua-dua belah pihak melalui pembayaran ufti antara Kota Bahgdad dengan kerajaan Byzantium. Hubungan yang baik dengan Kristian- Peranchis adalah kerana mereka sama-sama mempunyai musuh yang sama iaitu kerajaan Bani Umayyah. Kedua-dua buah kerajaan ini sentiasa bertukar duta dan kemudiannya diikuti oleh pemimpin mereka iaitu Khalifah Harun ar-Rasyid sendiri dan Charlemange. Malah, kerajaan Peranchis begitu menghormati dan meniru dasar pentadbiran kerajaan Abbasiyah bertujuan untuk kebaikan negara mereka sendiri. Manakala keluarga al- Barmaki pula sangat terpengaruh dalam pentadbiran mereka. Mereka memegang banyak jawatan yang penting seperti wazir hinggalah kepada gabenor daerah. Disebabkan itu, hubungan antara kerajaan Abbasiyah tidak begitu baik dengan keluarga al-Barmaki.

Satu lagi sumbangan Khalifah ar-Rasyid yang sangat besar kepada kerajaan Abbasiyah ialah dengan tertubuhnya Baitul Hikmah. Sikap prihatin beliau dalam bidang ilmu pengetahuan mendorong beliau untuk menubuhkan institusi itu sebagai satu tempat penyebaran ilmu pengetahuan. Semua kegiatan keilmuan ini merupakan satu usaha yang cemerlang dilakukan oleh beliau ketika mentadbir kerajaan Abbasiyah. Baitul Hikmah ini juga menggabungkan pelbagai fungsi antaranya ialah sebagai tempat penyimpanan buku-buku, pengumpulan buku, perpustakaan, pusat akademik dan balai penterjemahan. Ia juga merupakan lambang pendidikan yang terpenting dan telah dapat menandingi kemasyhuran Perpustakaan Iskandariah. Kerana tanggungjawab beliau sebagai seorang khalifah, beliau begitu gigih dalam memperkembangkan ilmu pengetahuan.

Sebagai kesimpulannya, Khalifah Harun ar-Rasyid merupakan seorang khalifah yang begitu gigih berusaha untuk keamanan dan kemakmuran Kota Baghdad. Beliau telah berjaya mencipta kejayaan demi kejayaan dan yang paling disebut-sebut ialah sebagai Zaman Keemasan Islam. Jasa dan sumbangan beliau yang tidak terbilang ini, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan serta perubahan-perubahan yang telah dilakukan menggambarkan bahawa beliau seorang khalifah yang amat prihatin dengan keamanan Negara yang tiada tolok bandingnya. Beliau juga disifatkan sebagai seorang pemerintah yang paling berwibawa dalam pelbagai aspek terutamanya dalam aspek pentadbiran. Peranan beliau yang paling besar ialah sebagai penaung kepada semua kegiatan ilmu pengetahuan. Baitul Hikmah merupakan hasil usahanya yang paling bermakna kerana ianya merupakan kombinasi perpustakaan, pusat akademik dan balai penterjemahan.

Tokoh Khalifah Harun Al Rasyid.doc - download (73 kb)
Baca Selengkapnya - Tokoh Khalifah Harun Al Rasyid

Tokoh Sastrawan Abu Nawas

Abu Nuwas al-Hasan bin Hani al-Hakami (750-810) dikenal sebagai Abu Nawas adalah seorang pujangga Arab. Dia dilahirkan di kota Ahvaz di negeri Persia dengan darah Arab dan Persia mengalir ditubuhnya. Abu Nawas dianggap sebagai penyair terbesar sastra Arab Klasik. Abu Nawas muncul beberapa kali dalam Kisah 1001 Malam.

Abu Nawas adalah putra penghulu Kerajaan Bagdad yang terkenal adil dan alim .Agamanya Islam bersikap jujur ,dan patuh pada ayahnya. Sifatnya arif bijaksana, suka menolong orang lain, baik orang kaya maupun orang miskin. Semuanya akan ditolong sesuai dengan hukum yang berlandaskan Islam. Semua masalah yang dibebankan kepadanya diselesaikan dengan baik dan bijaksna, walaupun kadang-kadang menjengkelkan. Raja Harun Al-Rashid sering memberi perintah kepada Abu Nawas sesuatu yang mustahil. Namun, Abu Nawas dapat menyelesaikan walaupun tidak sampai dilakukannya.

Abu Nawas seorang yang berilmu pengetahuan. Hal ini sedemikian kerana Abu Nawas seorang yang mengamalkan nilai kecerdikan iaitu nilai budaya yang diamalkan dalam hubungan manusia dengan diri sendiri. Abu Nawas selalu mendapat cubaan baik daripada raja dan permaisuri maupun dari orang lain. Abu Nawas disuruh mengerjakan hal-hal yang mustahil seperti memindahkan masjid, tetapi dapat diatasi dengan baik dan sempurna. Abu Nawas dapat mengerjakan hal- hal tersebut dengan baik kerana Abu Nawas mempunyai satu jenis ilmu pengetahuan iaitu ilmu .Ilmu atau pengatahuan ialah pengetahuan yang diperolehi manusia melalui tanggapan pancainderanya secara sepintas lalu atau sekali imbas yang merupakan satu imbasan atau impression yang terbentuk di dalam fikirannnya secara sepintas lalu dan bersifat sementara dengan pengukuran kebenarannya berasaskan deria/pancaindera semata-mata.

Kajian-kajian falsafah sesuai dengan keragamankan fikiran manusia ,menimbulkan pula pelbagai aliran atau sudut pendekatan kajian iaitu epistemology melalui aliran empirsisme.Empirisme aliran yang dikaitkan dengan John Locke (1632-1704), David Hume(1711-76)dan John Stuart Mill(1806-73)yang berpendapat bahawa ilmu pengetahuan itu diasaskan atau diperolehi melalui pengalaman, iaitu dikaitkan dengan perkara-perkara yang boleh diinderai dan dialami .Sebagai contoh, Raja Harun Al-Rashid memanggil Abu Nawas dan menanyakan maksudnya menjual dia kepada tukang bubur. Abu Nawas menjawab bahwa kalau dia mengadukan hal tukang bubur itu, raja tidak akan percaya. Akan tetapi, kalau raja sendiri yang mengalami kejadian itu tentu dapat dipercaya dan terhindar daripada hukuman akhirat kerana ada rakyatnya yang berbuat zalim. Oleh itu, raja mendapat pengalaman melalui kejadian tersebut.

Tradisi falsafah Yunani yang menjadi tunjang falsafah Barat memancarkan pandangan hidup dalam aspek teologi. Teologi bermaksud kajian tentang Tuhan yang menguasai alam semesta ini. Dalam Hikayat Abu Nawas terdapat unsur teologi .Sebagai contoh, Hikayat Abu Nawas memaparkan nilai budaya percaya kepada Tuhan. Nilai budaya percaya kepada Tuhan terdapat pada tokoh ayah Abu Nawas. Beliau menjadi penghulu dan mengerjakan semua perkerjaannya sesuai dengan perintah agama. Semua pengalaman itu dikemukakan oleh Kadi Maulana kepada anaknya, Abu Nawas sebelum beliau meninggal dunia. Beliau selalu berbuat sesuai dengan hukum agama. Meskipun telah berusaha, mungkin saja ada saatnya lupa atau tanpa sedar, beliau telah melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin dilakukan. Itulah sebabnya ketika beliau meninggal dunia, telinga kanannya berbau busuk. Hal itu menunjukkan bahawa beliau mendapat seksa Tuhan setelah meninggal dunia.

Hikayat Abu Nawas memaparkan falsafah Islam sebagai sumber falsafah Melayu. Islam telah meletakkan asas�asas falsafah yang jelas bagi bangsa Melayu dari aspek ketuhanan kepada aspek- aspek kehidupan seluruhnya. Sebagai contah, masyarakat yang terdapat dalam Hikayat Abu Nawas mengamalkan falsafah Islam dalam kehidupan mereka. Nilai budaya hubungan manusia dengan Tuhan ialah taat pada hukum agama. Nilai budaya terdapat pada tokoh Abu Nawas dan ayahnya. Abu Nawas tidak mau diangkat menjadi kadi .Pertama ayahnya yang taat kepada hukum agama saja mendapat seksa. Kedua, Abu Nawas harus menuruti permintaan ayahnya sebelum meninggal dunia untuk tidak menerima perkerjaan itu apabila telinga berbau busuk.

Terlepas dari kontroversi benar atau tidaknya mengenai kisah dan ada atau tidaknya tokoh Abu Nawas ini, yang pasti sosok Abu Nawas sangatlah melegenda dan mendunia menjadi tokoh pemeran utama yang memberikan banyak pelajaran kehidupan Islami dalam Kisah-Kisah 1001 Malam.
Baca Selengkapnya - Tokoh Sastrawan Abu Nawas

Tokoh Kebangkitan Romawi

Kaisar Charlemagne adalah raja bangsa Franks, penakluk Saxony, pendiri Kekaisaran Romawi merupakan salah seorang penguasa yang paling terkemuka di dunia. Lahir tahun 742 dekat kota Aachen yang akhirnya jadi ibukotanya. Ayahnya bernama Pepin si Cebol dan kakeknya Charles Martel, seorang pemuka bangsa Frank yang di tahun 732 berhasil memenangkan percobaan kaum Muslimin yang berusaha menaklukkan Perancis dalam pertempuran di Tours. Tahun 751 Pepin dinyatakan sebagai Raja bangsa Franks sehingga mengakhiri kelemahan dinasti Merovingian, mendirikan dinasti baru yang kini disebut Carolingian, sesudah Charlemagne. Tahun 768 Pepin meninggal dunia dan kerajaan bangsa Franks dibagi antara Charles dan saudaranya Carloman. Carloman meninggal tahun 771 mengakibatkan Charles di umur 29 tahun, jadi Raja tunggal di Kerajaan Franks yang sudah jadi kerajaan terkuat di Eropa. Pada saat penobatan Charles, Kerajaan Franks terdiri dari Perancis sekarang, Belgia, Swis, tambah sebagian negeri Belanda sekarang dan Jerman. Charles membuang sedikit waktu untuk mulai meluaskan kerajaannya. Janda Carloman dan anak-anaknya mengungsi ke kerajaan Lombard di Italia Utara. Charlemagne bercerai dengan istrinya orang Lombard bernama Desidarata dan memimpin tentara menuju Italia Utara. Menjelang tahun 774 Lombard sepenuhnya ditaklukkan. Italia Utara dibaurkan dengan kerajaannya meskipun empat penyerbuan tambahan masih diperlukan untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya. Janda Carloman berikut anak-anaknya jatuh ke tangan Charlemagne dan sejak itu menghilang.

Yang lebih penting dan lebih sulit adalah penaklukan Charlemagne atas Saxony, suatu daerah luas di sebelah utara Jerman. Ini diperlukan tidak kurang dari delapan belas kali pertempuran; yang pertama tahun 772 dan yang terakhir tahun 804. Faktor-faktor agama sudah barang tentu menjadi penyebab mengapa perang lawan Saxony begitu ketat dan berdarah. Orang-orang Saxon itu pagan/tak beragama dan Charlemagne memaksa mereka memeluk agama Nasrani. Mereka yang menolak dibaptis atau belakangan balik lagi murtad jadi pagan dijatuhi hukuman mati. Menurut taksiran tak kurang dari seperempat penduduk Saxon terbunuh dalam proses penaklukan agama secara paksa ini. Charles juga melakukan serbuan ke bagian selatan Jerman dan barat daya Perancis untuk mengukuhkan pengawasannya atas daerah itu. Untuk mengamankan perbatasan timur kerajaannya Charlemagne melakukan serentetan penyerbuan terhadap bangsa Avar. Orang Avar berdarah Asia, ada hubungannya dengan bangsa Hun dan mereka menguasai daerah yang luas, yang kini terkenal dengan Honggaria dan Yugoslavia. Sesudah itu Charlemagne membabat habis seluruh kekuatan Angkatan Bersenjata Avar. Kendati daerah-daerah sebelah timur Saxony dan Bavaria tidak diduduki bangsa Franks, negeri-negeri lain yang mengakui kekuasaan Franks membentang luas mulai Jerman hingga Croatia.

Charlemagne juga mencoba mengamankan daerahnya di perbatasan selatan. Tahun 778 memimpin penyerbuan ke Spanyol. Penyerbuan ini tidak berhasil tetapi Charlemagne bisa juga mendirikan daerah kekuasaan di Spanyol bagian utara terkenal dengan "Spanish March" yang mengakui kedaulatan kekuasaan Charlemagne. Sebagai hasil begitu banyak peperangan yang membawa kemenangan (bangsa Franks melakukan lima puluh empat kali pertempuran dalam jangka waktu empat puluh lima tahun selama pemerintahannya), Charlemagne berhasil menyatukan hampir seluruh Eropa Barat di bawah kekuasaannya. Pada puncak kejayaannya, kerajaannya terdiri dari sebagian besar Perancis, Jerman, Swis, Austria, Belanda, tambah sebagian besar Italia dan banyak lagi daerah perbatasan. Sejak jatuhnya Kekaisaran Romawi, tak ada satu negara pun yang punya daerah kekuasaan seluas itu.

Selama pemerintahannya Charlemagne memelihara hubungan akrab dengan Paus tetapi bukan Paus yang menguasai Charlemagne. Puncak peristiwa yang termasyhur dari pemerintahan Charlemagne terjadi di Roma pada Hari Natal tahun 800. Pada hari itu Paus Leo III mengenakan mahkota di atas kepala Charlemagne dan mengumumkan bahwa dia adalah Kaisar Romawi. Ini berarti Kekaisaran Romawi Barat yang sudah hancur tiga abad sebelumnya dinyatakan bangkit kembali, Charlemagne merupakan pengganti Augustus Caesar yang sah. Tentu saja satu keganjilan menganggap Kerajaan Charlemagne merupakan "pemugaran" Kekaisaran Romawi. Pertama, daerah yang dikuasai kedua kekaisaran sangat jauh berbeda. Kerajaan Charlemagne betapapun luasnya, hanya mencakup separoh dari Kekaisaran Romawi Barat. Sebagian daerah memang sama seperti Belgia, Perancis, Swis dan bagian utara Itali. Tetapi Inggris dan Spanyol, daerah selatan Itali dan Afrika bagian utara yang merupakan daerah kekaisaran Romawi tidak dalam kekuasaan Charlemagne. Sedangkan Jerman yang merupakan daerah taklukan yang penting tidak ada dalam kekuasaan Romawi. Kedua, Charlemagne bukanlah orang Romawi ditilik dari segala sudut; tidak dari sudut kelahiran, pandangan maupun budaya. Bangsa Franks tergolong suku Teutonik dan bahasa asli Charlemagne dialek Jerman Kuno meskipun sedikit-sedikit dia belajar bahasa Latin. Charlemagne sebagian besar hidup di Eropa Utara, khusus Jerman dan hanya melakukan 4 kali perjalanan ke Itali. Ibukota kekaisarannya bukan Roma melainkan Aachen. Kini berada di Jerman Barat tidak jauh dari perbatasan Belgia dan Negeri Belanda.

Kegesitan pengambilan keputusan politik Charlemagne yang menjadi ciri khasnya ternyata macet begitu dia dihadapkan pada persoalan siapa yang akan menggantikan tahtanya. Kendati dia sudah menghabiskan sebagian besar masa hidupnya berpegang menyatukan sebagian besar daerah Eropa Barat, dia tidak mampu secara bijak menyusun perencanaan membagi wilayah kekaisaran diantara ketiga puteranya ketika dia mati. Hal ini biasanya menandakan ketidakmampuan menetapkan satu garis tegas dan jalan keluar hingga bisa jadi bibit perang saudara. Tetapi keadaan selanjutnya menunjukkan kedua putera tertuanya mati tak lama sebelum Charlemagne sendiri. Akibatnya, putera ketiganya (Louis Sang Taat) mampu mewarisi tahta Charlemagne tanpa gangguan ketika Charlemagne meninggal dunia di Aachen 814. Tetapi Louis menunjukkan kelemahannya dalam hal pengambilan keputusan ketimbang sang ayah tatkala saat naik tahta tiba dia juga berkeinginan membagi kerajaannya kepada anak-anaknya. Sesudah melalui pertempuran, putera Louis akhirnya menandatangani persetujuan Verdun 843 yang mengakibatkan kerajaan bangsa Franks terbagi jadi tiga bagian. Parohan pertama terdiri dari sebagian besar daerah Perancis sekarang, parohan kedua termasuk bagian besar daerah Jerman dan parohan ketiga termasuk Italia utara juga daerah memanjang perbatasan Perancis-Jerman.
Baca Selengkapnya - Tokoh Kebangkitan Romawi